Jumat, 08 Februari 2008

(HANYA) 2 JAM (bagian -2)

(Kami saat berada di atas Kapal Fery Trunojoyo menuju Penajam Paser Utara)
KRING…kring…kring…. Suara telepon di kamar hotel yang saya jadi tempat menghilangkan penat berbunyi dan membuat saya terbangun dari tidur.. “wah .. sudah jam 7.30” pikir saya. Dengan sigap, saya angkat gagang telepon… “Halo… sapa nih,” tanya saya. “Kak Roby ya… ini Kiki, katanya disuruh nyusul ke hotel aja? Kak Muchlis mana,” jawab Aspri Kakanda Abrianto yang cukup manis itu. “Muchlis di kamar sebelah. Naik aja ke kamar saya dek, ntar sama-sama sarapan,” jawab saya.
Setelah mandi dan bersih-bersih badan, saya bersama Muchlis dan Adinda Kiki sarapan bareng di restoran Hotel Mirama. Ya walaupun makannya kurang mengundang selara, tapi kami bertiga makan juga (mungkin karena lapar disebabkan perut kosong dan mulai bernyanyi). Ya sekadar makan nasi goreng ala hotel Mirama dan roti bakar.
“Jam Bang Abri (anto amin) datang dari Jakarta, naik pesawat apa?” tanya saya ke Kiki sambil menimkati nasi goreng. “Tadi malam Bang Abri sms katanya jam 10 sudah sampai di Balikpapan, naik pesawat Lion Air,” jawab kiki. “Wah pas itu. Nanti langsung ke rumah jabatan Pak Imdad (Walikota Balikpapan) aja bos,” sambung Muchlis. “he eh,” gumam saya singkat.
Usai sarapan, saya dan Muchlis siap-siap menjemput Wakil Direktur Ekekutif (Abrianto Amin) ke Bandara Sepinggan Balikpapan. Di perjalanan menuju Bandara, Sahabat Muchlis menerima telepon dari Imdad Hamid yang menginformasikan bahwa menunda pertemuan, disebabkan Imdad mengikuti acara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Panglima Kodam VI Tanjungpura.
“Pak Imdad minta ketemu jam 12 an bos.. gimana nih,” tanya Muchlis. “Ya entar kita bicarakan sama Bang Abri lah gimana baiknya. Karena kita juga ngejar jadwal sama Pak Ridwan (Bupati Paser),” ujar saya memberikan pertimbangan.
Sekitar pukul 10.21 Wita, kami tiba di Bandara Sepinggan. Ternyata Bang Abri sudah menunggu di coffe shop Sepinggan, setelah ngobrol dengan beberapa kolega yang kebetulan bertemu di Sepinggan, akhirnya kamipun meninggalka Bandara bertaraf Internasional di Kaltim itu.
TRAGEDI SANDAL
Karena pertemuan dengan Imdad Hamid kami batalkan, akhirnya kami sepakat untuk kembali ke hotel, ya sekadar menemani Sahabat Abri istirahat dan mandi. “Belum sempat mandi saya tadi di Jakarta,” katanya. Sebelum ke hotel, kami singgah dulu di Rumah Makan Ponorogo, untuk menikmati Nasi Pecel. “Konon menurut kabar, nasi pecel di situ adalah nasi pecel yang paling enak di Balikpapan”.
Usai menikmati satu piring nasi pecel, kami pun meneruskan perjalanan menuju Hotel Mirama. Setelah rehat sejenak dan bersih-bersih badan, kamipun bergegas check out dari hotel, karena ingin segera mengejar jadwal pertemuan dengan Ridwan Suwidi. “Jangan sampai batal lagi nih,” cetus Muchlis.
“Eh bos… jangan pake sepatu. Kan biasanya kalo setir mobil, sepatu kan pasti dilepas. Jadi pake sandal hote aja bos,” tegus Muchlis kepada saya, yang saat itu hendak memakai sepatu. Karena saran itu saya pikir bagus, saya turuti ‘nasehat’ Sahabat saya itu. “Ya supaya gak ribet lah,” pikir saya.
Apa karena terburu-buru atau konstruksi tangga Hotel Mirama yang licin atau ada faktor x, tiba-tiba “Gedubrak…. Brak… prok…” saya terbanting dari lantai 2 menuju lantai 1 dengan terbanting beberapa kali. “Roby jatuh…. Wah bisa geger otak nih,” teriak Sahabat Muchlis yang hampir berbarengan dengan jeritan Kiki. Sahabat Abri yang saat itu berada di lantai tiga, langsung bergegas turun melihat kondisi saya – yang menurut Kiki berwajah pucat dan setengah pingsan. “Gimana? Gak papa khan? Dibawa ke Rumah Sakit kah?” begitu kurang lebih sayub-sayub saya mendengar pertanyaan yang dilontarkan Sahabat Abrianto ke Kiki dan Muchlis.
Beberapa security hotel dan pihak Receptionis Hotel datang dan menawarkan untuk segera menjalani perawatan medis di RS Restu Ibu Balikpapan. “Gak usah… saya mau baring dulu. Mudah-mudahan gak apa-apa,” ucapku.
Setelah beberapa saat istirahat, dengan nada kecil saya sempat bergumam “Busyet nih tangga. Seharusnya hotel perlu ada SOP (standart operation procedure) dalam konstruksi bangunannya”.
Setelah merasa agak mendingan, akhirnya kami berempat melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan penyeberangan Fery Kariangau, Balikpapan. ‘I am Coming Paser” mungkin begitu ucapan kami masing-masing dalam hati. ***