ADA tradisi baik sekali di negeri kita berkenaan dengan Idul Fitri yang sayang kini sudah agak ‘luntur’ bersamaan dengan ‘majunya zaman’.
Dulu ketika kehidupan masih sederhana dan sebelum orang kenal dengan makhluk yang namanya materialisme, di Idul Fitri atau hari Lebaran ada tradisi saling kunjung-mengunjungi, silaturahmi, dan saling memaafkan di antara sesama. Bahkan menurut cerita orang-orang tua, dulu dalam silaturahmi, mereka meminta maaf dengan memerinci kesalahan-kesalahan mereka yang sudah diperbuat. Berangsur-angsur tradisi silaturahmi itu digantikan dengan kartu lebaran dengan ucapan yang nyaris seragam, “Selamat Hari Raya Fitri, Minal ‘aidin wal faizin, Maaf lahir batin”. Dan kini malah cukup dengan sms, pesan melalui HP, seperti: ‘Met Lebaran! Maaf ya choy!”.
Bergaul dengan Tuhan, sebetulnyalah lebih enak dibanding dengan sesama manusia. Lembaga pengampunan Tuhan banyak sekali. Kita mengaku salah dan beristighfar, Allah memaafkan.
Berbeda dengan Tuhan, bergaul dengan manusia justru lebih sulit. Manusia punya dendam, punya hati yang rentan dan karenanya sulit memaafkan. Momentum yang paling diharapkan manusia mudah memaafkan (dan meminta maaf) ya setelah Ramadan, di Idul Fitri ini. Karena dada-dada mereka sedang lapang setelah dosa-dosa mereka kepada Allah telah diampuni. Bila di Idul Fitri saja, orang tidak meminta maaf atau memaafkan, maka di kesempatan lain pasti lebih sulit.
Soalnya, meskipun dosa kita kepada Allah telah diampuni, apabila kita mempunya dosa kepada sesama dan yang bersangkutan belum memaafkan, akan terus menjadi ganjalan yang bisa mencelakakan diri kita di hari Kiamat.
Ada hadis shahih yang seharusnya membuat kita khawatir dan berhati-hati, “Orang-orang yang benar-benar bangkrut –di antara umatku—ialah mereka yang datang di hari Kiamat dengan membawa (seabrek) pahala salat, puasa, dan zakat; tapi mereka datang setelah (di dunia) mencaci ini, menuduh itu, memakan harti si ini, melukai si itu, dan memukul si ini. Maka diberikanlah pahala-pahala kebaikan mereka kepada si ini dan si itu. Jika habis pahala-pahala kebaikan mereka sebelum terpenuhi apa yang menjadi tanggungan mereka, maka diambillah dari dosa-dosa orang-orang yang pernah mereka salahi dan ditimpakan kepada mereka, kemudian dicampakkanlah mereka ke api neraka.” Na’udzu biLlah!
Melihat itu semua, terutama mengingat kebaikan serta murahnya Tuhan dan sulitnya manusia, kita pantas heran terhadap mereka yang ketika bergaul dengan Tuhan begitu pethenthengan, sok ngepas-ngepaskan kadang sampai was-was. Bahkan ada yang bukan hanya menjaga ‘hak Allah’ atas dirinya sendiri, tapi juga berlagak menjaga ‘hak Allah’ atas diri orang lain.
Sementara saat bergaul dengan sesama manusia seenaknya saja. Begitu sembrononya sikap mereka terhadap sesama hamba Allah hingga menyakiti hati dan merampas hak orang lain mereka anggap biasa. Ada yang lebih konyol lagi: menyakiti dan merampas hak hamba Allah sambil membawa-bawa nama --atau atas nama—Allah! Yang terakhir ini, sungguh keterlaluan. Apakah mereka tidak sadar bahwa dengan perilaku mereka yang semena-mena terhadap hamba Allah atas nama Allah itu berarti mereka telah menodai ke-maha rahmat-an Allah, di samping telah berburuk sangka kepadaNya?
Kita sering mendengar istilah hablun minaLlahi dan hablun minannaas; saya pikir yang lebih aman adalah menjaga ‘hak Allah’ dan ‘hak hambaNya’ secara seimbang. Hak Allah adalah disembah. Kita wajib beribadah kepadaNya. Dan jangan lupa bersikap baik dengan hamba-hamba Allah adalah bagian dari ibadah kepadaNya. Memuliakan manusia adalah bagian dari mencari ridhaNya, karena Ia sendiri memuliakannya.
Di Hari Fitri ini, Al Faroby beserta keluarga mengucapkan, “Selamat Idul Fitri 1429 H. Iidun Sa’iid; Wakullu ‘aamin wa antum bikhair!” Ada salah tutur kata dan sikap laku saya selama ini yang --pasti tidak saya sengaja—melukai hati siapa pun Anda, dengan kerendahan hati saya memohon maaf lahir dan batin. Allah menyukai mereka yang pemaaf dan mereka yang berbuat baik. ***









