PELAKSANAAN Pemilu 2009 tidak sampai satu tahun, bahkan beberapa tahapan pen-caleg-kan sudah dilakukan KPU se Indonesia. Pertanyaannya, mungkinkah Pemilu 2009 akan melahirkan pemimpin masa depan visioner yang membuat bangsa ini bangkit dari keterpurukan? Apakah kaum muda sebagai bagian generasi baru bisa memperoleh peran yang strategis?
Mencermati wacana di masyarakat, dari obrolan manis ‘kelompok marginal’ di warung kopi malam (baca: warung jenggo), hingga akademisi dan para ahli, sepertinya mereka tidak yakin Pemilu 2009 akan melahirkan pemimpin visioner. Bagaimana mungkin, negeri yang dipimpin oleh para kaum oligarki dan predator bisa melahirkan ‘ratu adil’ yang akan membawa kabar baik bagi kaum lemah dan tak mampu.
Pesimisme akan munculnya pemimpin masa depan visioner dipengaruhi oleh lemahnya "kapital moral" para politisi di negeri ini. Sedangkan kapital bukan sekadar potensi kebajikan yang dimiliki seseorang, melainkan potensi yang bisa menggerakkan roda politik.
Tindakan politik yang menyangkut kinerja pemimpin politik dalam menerjemahkan nilai-nilai moralitasnya ke dalam ukuran-ukuran perilaku, kebijakan, dan keputusan politiknya juga menjadi prasyarat bagi seorang pemimpin yang akan membela kaum lemah. Namun, pada level ini, para politisi dan partai politik lebih sedikit lagi yang bisa lolos. Hampir tidak ada partai yang sungguh-sungguh setia pada fatsoen politik atau sanggup menerjemahkan klaim ideologisnya ke dalam bentuk kebijakan dan agenda politik yang mencerahkan.
Keefektifan komunikasi politik tentu tidak bisa diabaikan begitu saja, karena ia menyangkut kemampuan seorang pemimpin untuk mengomunikasikan gagasan serta nilai-nilai moralitasnya dalam bentuk retorika politik yang efisien. Efektivitas komunikasi pemimpin politik kita selalu gagal. Kegagalan itu bukan hanya mencerminkan kelemahan dan amatirisme perseorangan, tatapi juga karena absennya mekanisme pertanggungjawaban publik
Realitas kelabu ini hanya membuat masyarakat terombang-ambing dalam ketidakpastian: antara tertarik ke orbit romantisme atau menggagas masa depan. Pada titik inilah, kekecewaan dan pesimisme mulai muncul.
Masih ada secercah harapan di tengah kusutnya masalah kebangsaan Indonesia: yaitu kaum muda. Harapan itu kita bebankan kepada kaum muda yang memiliki stok "kapital moral" yang kuat namun berada di luar pemimpin-pemimpin yang beredar selama ini. Masih ada calon pemimpin (nonpartai) masa depan visioner, namun sejauh ini tidak diberi ruang untuk mentransformasikan kekayaan "kapital moralnya" menjadi kapital bergerak, yang diinvestasikan ke dalam arena politik untuk membawa perubahan.
Tak ada kata terlambat, sebab masih ada waktu untuk melakukan seleksi. Kita dorong rakyat untuk memilih mereka (kaum muda) yang pantas menakhodai negeri ini di masa yang akan datang. Mereka (para kaum tua) yang sebelumnya bermain-main dengan kekuasaan bersiap-siaplah untuk ke luar dari arena pertempuran: karena rakyat sudah "muak" dengan pemimpin yang bermental "pecundang dan pengecut." Masih ada sedikit nurani jernih "berkapital moral" kuat yang peduli atas nasib bangsa ini, yaitu kaum muda. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar