Rabu, 03 September 2008

Marhaban Ya Ramadhan

ASSALAMU’ALAIKUM …, Selamat hari Senin di awal bulan September 2008 yang juga bertepatan di hari pertama Bulan Ramadhan 1429 H. Sangat pantas kiranya, saya mengucapkan ‘Marhaban Ya Ramadhan’ – selamat datang di bulan yang penuh rahmat dan pengampunan.
“Selamat Menjalankan Ibadah Puasa”, begitulah kira-kira pesan pendek (SMS) melalui telepon selular yang saya terima dari sahabat saya non-muslim. Kata-kata tersebut mungkin biasa, tapi setelah saya hayati terkandung makna yang cukup universal dan selaras dengan nilai-nilai multikultural. Karena, Salah satu ajaran yang memperlihatkan adanya kesamaan nilai dalam keragaman budaya adalah puasa. Ia merupakan ajaran agama yang diwariskan dari agama-agama sebelumnya.
Dalam konteks lebih luas, seolah agama hanya dipahami sebagai persembahan untuk Tuhan. Pada titik ini, Tuhan dibingkai sesuai dengan keyakinan masing-masing. Padahal Tuhan “memproklamirkan” dirinya sebagai penebar cinta kasih untuk semua umat manusia dalam keragaman budaya (multikulturalisme), tanpa merendahkan satu budaya dan mengagungkan budaya lainnya, anti-dominasi.
Sebagai bulan suci, puasa hendaknya bisa dijadikan titik tolak untuk menyemaikan nilai-nilai multikultural. Dahulu kala, dalam menyebarkan misi Islam di Indonesia, para Wali Songo pernah memakai metode dakwah multikultural. Yaitu agama lintas budaya tanpa membedakan ragam budaya, lintas etnik tanpa mengagungkan etnik tertentu, dan lintas jender tanpa memuliakan jenis kelamin tertentu. Apalagi kaya-miskin. Pendek kata, agama dihadirkan di ruang publik sangat humanis-multikulturalis.
Dalam multikulturalisme tidak ada dominasi budaya mayoritas dan tirani budaya minoritas. Dimensi multikulturalisme ini sebenarnya tersirat kuat dalam Islam dengan pernyataan bahwa Islam adalah penebar kasih sayang bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin). Pengejawantahan dari pernyataan tersebut tidak hanya dalam konteks teologis, tetapi sosial budaya. Islam, seperti yang tercermin dalam sikap Rasulullah, juga sangat menghargai eksistensi pluralitas budaya dan agama.
Puasa sebagai tradisi agama-agama yang memiliki makna universal harus dijadikan energi positif bagi menguatnya pemahaman multikultural yang disemangati oleh nilai-nilai ketuhanan (rabbaniyah) dan kemanusiaan (insaniyah). Transformasi spiritual dan semangat multikultural yang dicapai lewat puasa, idealnya bisa dinikmati dan dirasakan oleh seluruh umat manusia tanpa terjebak oleh sekat-sekat budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun teologis, apalagi politis.
Dalam rangka itu, maka pemahaman terhadap agama-agama harus dilakukan dalam konteks kesamaan misi universal kemanusiaan. Universalitas ini tidak akan mematikan potensi-potensi khas yang ada dalam agama maupun budaya yang beragam. Justru potensi-potensi tersebut bisa tumbuh bersama dalam keragaman (multikultural).
Dan ini hanya akan terselenggara apabila ada komitmen dan kesungguhan semua komunitas atau jamaah budaya dan agama baik sebagai mayoritas maupun minoritas untuk bersikap inklusif dan toleran secara setara untuk kepentingan bersama. Inilah semangat dalam pelaksanaan puasa, yaitu sebuah semangat keagamaan yang ramah terhadap ragam budaya. Dengan demikian, agama bisa tampil sebagai milik semua untuk bersama. Semoga!