Minggu, 30 Desember 2007

Tahun Baru & Bencana

Saya tidak tahu apakah ada korelasi yang signifikan dengan tahun baru dan bencana yang menjadi ‘langganan’ di republik ini. Tapi oke lah, ada korelasinya ataupun tidak, kita coba refleksi perjalanan bangsa ini di tahun 2007.

Saat Tahun Baru 2008 tiba yang ditandai dengan hingar bingar suara terompet dan pesta kembang api di seluruh jagad. Bahkan orang per oran maupun compeny, jauh-jauh hari sudah men-design, agar malam pergantian tahun menjadi lebih meriah dan semarak.

Namun, situasi itu sangat berbeda seperti yang yang dialami saudara-saudara kita di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta tempat lainnya di wilayah tanah air yang dilanda bencana banjir dan tanah longsor. Mereka tidak memikirkan acara tahun baru-an. Mereka hanya memikirkan bagaimana menyelamatkan diri dan mendapat bantuan berupa obat-obatan dan makanan secepatnya.

Setiap kali melihat kejadian bencana alam melalui media massa, kita selalu disuguhkan dengan pemandangan yang mengharukan perasaaan, batin kita pun tersentuh. Banyak rumah yang hancur akibat bencana alam, korban-korban yang tewas serta warga yang selamat tetapi dengan luka parah.

Meski mereka bukan keluarga kita, tetapi kita ikut merasakan penderitaan hebat. Sayangnya, di tengah kepiluan akibat bencana alam ini, sebagian saudara-saudara kita yang tidak tertimpa musibah seolah tidak peduli dan tidak sedikitpun menunjukkan rasa empatinya dengan apa yang terjadi.

Banyak stasiun TV swasta yang menayangkan berita-berita bencana tersebut, namun berita ini belum menyentuh rasa solidaritas terhadap saudara sebangsa yang menjadi korban bencana.

Acara Tahun baru ini sepertinya disambut dengan dua hiruk-pikuk manusia yang saling bertentangan. Yang satu sibuk berpesta dan hura hura, yang lainnya sibuk menyelamatkan diri dan harta benda yang masih bisa diselamatkan.

Banyak pihak mengharapkan agar acara tahun baru kali ini tidak dirayakan dengan hura-hura, dikarenakan ditempat lain banyak saudara-saudara kita tertimpa bencana. Mereka berharap acara tersebut hanya diisi dengan kegiatan renungan suci atau berbuat sesuatu untuk membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah.

Memang penanganan bencana ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab pemerintah, namun apakah setiap ada bencana harus ditangani pemerintah tanpa dibantu peran aktif masyarakat?

Sampai kapan kita akan terus berdiam diri melihat saudara-saudara kita yang tertimpa musibah? Sudah selayaknya bagi kita yang tidak tertimpa bencana ikut membantu dan meringankan beban penderitaan para korban, sebagai bentuk empati dan rasa kesetiakawanan sesama anak bangsa.

Ini hanya sebuah renungan, apakah masih ada rasa kemanusiaan kita sebagai mahluk yang berasal dari ciptaan yang sama. ***

Tidak ada komentar: