Rabu, 23 Januari 2008

DARI sebuah ngobrol ringan, Diskusi kecil, mencoba untuk mensinergiskan cara pandang, memperpadukan kegelisahan atas sebuah realita kehidupan. Percikan ide dan gagasan melahirkan kekuatan alternatif dari 'kekuatan lain', ICON Institute, untuk menjawab semua tanya, semua keraguan, keputus-asaan. ICON Institute hadir bukan sekadar bicara, tapi bukti atas sebuah kerja nyata.

Mr. Andi Harun, Executive Director

Mr. Abrianto Amin, Deputy Executive Director


Mr. Andi Ade Lepu F, Research Director

Mr. Mulyadi, Networking Director


Mr. F Al Faroby, Scientific Infrastructure and Publications Director


Mr. Muchlis Ramlan, Financial and Administration Director


Mr. Mulia Raharja, Organize Director


Note : Ini bukan untuk sekadar tampang wajah bak cover boy yang sedang berpose. Ini hanya sebatas memberikan warna lain plus 'promosi' wajah in the behind ICON Institute. Dan yang terpenting, ini adalah jawaban dari Sahabat plus Kakanda Andi Ade Lepu yang enggan mempublikasikan 'wajah' ICON.

Senin, 21 Januari 2008

(Hanya) ‘2 Jam (Bagian-1)


(Kami kelelahan menempuh perjalanan yang sangat panjang. untuk menghilangkan penat, kami menikmati buah Durian yang sangaaaatttttttt leeeeeeezzzzzzzaaaaaaaattttt)

SAHABAT saya, Muchlis Ramlan, yang juga Financial and Administration Director ICON memberikan kabar melalui Send Message Service (SMS), bahwa Hari Selasa (15 Januari 2008), ICON institute dinanti Walikota Balikpapan (Imdad Hamid) dan esoknya (16 Januari) ditunggu Bupati Paser (HM Ridwan Suwidi).
Pertemuan antara ICON Institute dengan petinggi di dua (2) kota itu, merupakan bagian dari program ICON yang me-road show ke tokoh publik guna berdiskusi dan (akan) di dokumentasikan dalam sebuah buku.
Dari agenda yang di-schedulle Sahabat Muchlis, ternyata beberapa Sahabat tidak bisa turut serta. Sahabat Andi Harun (Exsekutive Dircektor ICON) misalnya, karena kesibukan sebagai pejabat negara serta Wakil Rakyat menyatakan maaf karena tidak bisa menyertai pertemuan ICON dengan tokoh-tokoh itu. Begitu juga dengan Sahabat Andi Ade Lepu F (Riset Director ICON) juga tak bisa ikut. “Maaf ya Dinda, kita juga butuh urusi kebutuhan rumah. Tapi tenang saja, kalau urusan kelar, saya pasti susul,” kilah Bang Andi Ade.
Sementara Sahabat Mulyadi (Networking Director) yang dikenal sibuk diinternal ICON, juga tidak bisa menyertai, karena bertugas sebagai anggota tim penyeleksi Panwas Pilgub mewakili Rektor Universitas Mulawarman. Maklum, sahabat Mulyadi dikenal di kalangan internal ICON sebagai Rektor Unmul secara de facto.
Tak kalah super sibuknya, sahabat saya yang juga tidak bisa menyertai kami ke dua kota itu yakni, Sahabat Mulia Raharja. “Saya sedang mengawal Ulama dari Libanon dan Wakil Syuriah PBNU, DR H Said Agil Sirad bos. Ada acara Tariqoh. Soalnya, kalau tidak ada saya, acaranya bisa gagal bos,” akunya. “Waduh… melebihi gubernur Kaltim ini orang,” kata saya membathin.
Kendati beberapa ‘orang penting’ ICON tidak bisa menyertai perjalanan kami road show, tapi kami berangkat juga. Karena sudah terlanjur janji.
Tepat pukul 18.00 Wita, akhirnya saya bersama Muchalis didampingi Kiki (Gadis yang menjadi Asisten prbadi Sahabat Abrianto Amins – Deputy Exsekutive Director yang diangkat tak langsung menjadi notulis ICON dalam setiap pertemuan) menuju Balikpapan.
Karena esok harinya dijadwalkan bertemu dengan Walikota Balikpapan plus menjemput Sahabat Abrianto. Karena beliau sedang berada di Jakarta bertemu Mendagri untuk membahas RTRW Kaltim.
Perjalanan dengan jarak 114 KM dari Samarinda ke Balikpapan banyak cerita dan angan-angan yang kami bahas bersama. Mulai khayalan ICON akan menjadi lembaga yang besar dan serta menjadi rujukan lembaga lain di Kaltim, bahkan Nasional, hingga pada persoalan ‘babinian’. Yang jelas, dari cerita ngalor ngidul itu, kita semua punya keinginan yang sama, yakni membesarkan ICON sebagai sebuah lembaga.
Tak terasa perut mulai ‘bernyanyi’ tanda harus segera diisi. Maklum perut orang Indonesia yang sulit diajak kompromi. Karena perjalanan masih kurang 60-an KM, kami pun singgah di Rumah Makan Tahu Sumedang – hehehehe… bukan promisi – sekadar untuk mengganjal perut. Kami pun memesan tiga porsi ayam kampung goreng kremes dan 2 porsi tahu sumedang. Setelah kenyang, kamipun ‘cabut’ ke Balikpapan. Akhirnya, kami pun sampai ke Balikpapan tepat pukul 20.45 Wita. ***

Senin, 14 Januari 2008

WAJAH INDONESIA 2009


Ini (mungkin) tulisan yang coba saya publis ke 'penikmat' blog ini berdasarkan saduran dari tulisan dan obrolan singkat sang Budayawan 'nyentrik' Emha Ainun Najib alias Cak Nun. 'contekan' tulisan bukan bermaksud apa-apa, melainkan hanya sekadar ingin menyajikan sesuatu yang berbeda saja. Atau mungkin saat ini saya lagi badmood saja untuk menulis atau hanya sekadar dari pada tidak ada tulisan. Yang jelas, apa pun itu bagaimanapun bentuknya, ini bagian dari 'menuhi' isi blog saja.

***** ^^^^^^ *****


Banyak isu tentang krisis pangan dunia 2009, iklim global, 'rencana' bencana-bencana nasional dst. Perkara hutang luar negeri sebenarnya cukup mandatkan pada Kongres Akuntan Nasional, minta mereka berdiskusi kemudian kasih rekomendasi yang menunjukkan betapa simpelnya sesungguhnya masalah itu untuk kita atasi kalau kita mau.
Masalah kepemimpinan, kita berlimpah-limpah calon Presiden dan Pemimpin Nasional. Tinggal ambil dari teritori mana, golongan apa, parpol, suku, Agama dan apapun saja yang sangat siap dengan kandidat-kandidat Presiden. Bahkanpun kaum Selebritis sangat siap memimpin Indonesia, terbukti dengan begitu banyak urusan yang dipercayakan kepada mereka.
Yang paling nyata adalah semakin tercapainya Persatuan Nasional menjelang 2009. Kita bangsa bersuku-suku, tapi cita-cita satu. Kita berbagai-bagai budaya, tapi gawang kehidupan satu. Kita punya banyak Agama, ragam nilai, pilihan-pilihan di segala sisi kehidupan, tapi obsesi kita satu.
Anak-anak kita boleh pilih masuk kuliah di Fakultas Kedokteran, Ekonomi, Tehnik, bahkan Tarbiyah dan Ushuludin: namun harapan hidupnya satu.


*****

Satu cita-cita itu ialah menjadi kaya. Ada kerbau, ada macan, berang-berang, buaya, cacing, badak dan jutaan macam hewan lagi, tapi cita-citanya sama: ingin terbang dengan pakaian kemewahan.
Macam-macam profesinya, macam-macam permainannya, beragam-ragam kostum dan ayat-ayatnya, namun obsesinya menyatu secara nasional, ialah menjadi kaya. Memang ada klise-klise aplikatif: ingin mengabdi kepada bangsa dan Negara. Ingin berbakti kepada Agama dan masyarakat. Dan mungkin benar awalnya memang bercita-cita seperti itu, tetapi begitu ketemu pintu-pintu gerbang keuangan: mulai penuhlah kepala oleh cita-cita tunggal itu.
Kalau anak-anak kecil dikasih iklim: ingin menjadi dokter, insinyur, Presiden. Tapi ujungnya sama saja, yaitu menjadi kaya. Milih jadi orang kaya meskipun tidak jadi dokter, daripada sebaliknya. Kalau kerja 6 hari menjadi 5 hari, kelak kita runding bagaimana dalam seminggu kita kerja sehari saja dan libur 6 hari, kita sepakati asalkan gaji tetap seperti semula.
Orang memilih tidak kerja tapi dapat gaji daripada kerja tapi tak dapat gaji. Kalau sampai kerja tak dapat gaji maka ayat-ayat tentang hak buruh, HAM dlsb bertaburan di langit dan bumi. Tapi kalau terpaksanya kita balik: tidak kerja tapi dapat gaji, sebenarnya itu yang diam-diam lebih OK dalam hati.
Uang berlimpah jauh lebih menarik dibanding Tuhan. Korupsi jauh lebih dipercaya disbanding hakekat dan metabolisme rejeki. Kalau melebar sedikit: orang diam-diam sudah makin sanggup meragukan Tuhan, tapi tak seorangpun memiliki keberanian untuk meragukan Demokrasi. Orang lebih tertarik pada kekayaan dibanding kesalehan. Orang lebih terpikat oleh uang banyak daripada digniti kepribadian. Orang lebih tergiur pada kejayaan materi dibanding kemuliaan hidup.


*****

Sejumlah orang akan membantah kalimat-kalimat ini. Tapi saya sendiri sudah terlalu tua untuk mampu membantah hal itu. Saya sudah udzur dan ditipu mentah oleh fakta-fakta kehidupan, sehingga sampai menjelang kepala-6 saya belum memulai apapun untuk memperjuangkan karier saya: jangankan lagi untuk menegakkan kebenaran.
Tentu saja kalau yang dimaksud karier adalah berkuasa, kaya dan terkenal: sudah lama - menurut ukuran saya dengan hidup tempe sambal dan menikmati cuci kaos piring: saya tidak memiliki problem apa-apa. Tapi yang saya maksudkan karier adalah mandat kekhalifahan dengan konten dan skala yang jelas yang sudah lama saya siapkan namun tidak ada gejala bahwa sejarah manusia ini memerlukan kualitas kesejahteraan hidup semacam itu.
Menjadi kaya adalah isi utama kepala manusia Indonesia. Dan untuk itu dipilih cara dan jalan yang paling bodoh dan malas: akting menjadi pemimpin, ustadz, artis, wakil rakyat, lembaga zakat infaq atau apapun. Jangan kawatir, tentu saja orang juga menikmati hubungannya dengan Tuhan, kenyamanan bernasionalisme, kesantunan social, estetika dlsb, tetapi itu semua sekunder. Yang primer di kepalanya adalah harus ada kenyataan bahwa ia berlimpah atau sekurang-kurangnya aman di bidang keuangan. Yang dimaksud aman itu takarannya begini: "Wah, rugi saya, ada proyek basah banget tapi gagal memenangi tender...."
Padahal dia tidak rugi apapun. Tidak rugi pun merasa tidak aman. Aman adalah laba sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Dasar moral ilmu ekonomi di seluruh muka bumi ini sejak awal memang curang.
Di luar kaya, unsur lain popular juga: powerfull and famous, berkuasa dan terkenal. Tapi kekuasaan dan popularitas juga membawa visi missinya sendiri: merangsang manusia untuk lebih kaya dan lebih kaya.


*****

Kekuasaan adalah jalan paling popular untuk mencapai cita-cita tunggal itu. Maka tidak ada agenda apapun yang lebih diutamakan dibanding apapun dalam kehidupan bangsa Indonesia melebihi agenda politik. Siang malam, tiap bulan, tiap tahun, headline, ngrumpi, obrolan gardu, apapun saja sesungguhnya berpangkal dan berujung pada agenda politik.
Di sebuah Propinsi saya diajak ketemu oleh seorang Walikota, di saat lain oleh sekelompok pemuda dari suatu komunitas, juga di malam lain seorang pemimpin pembela kaum muskin urban – semuanya untuk agenda yang sama: yakni membicarakan nasib ribuan orang yang berumah di bawah jalan tol.
Tatkala ajakan itu disampaikan kepada saya, saya benar-benar sibuk menonton televisi yang menayangkan berita bahwa Pak Gubernur Propinsi itu sedang naik podium menyatakan akan mencalonkan diri menjadi Presiden mendatang. Khalifah Umar bin Abdul Aziz menangis dan shalat taubat kepada Allah gara-gara seekor onta terpeleser nun jauh di sana namun masih di wilayah tanggung jawab kekhalifahannya. Ia begitu merasa bersalah. Agenda Pak Umar benar-benar berbeda dengan agenda Pak Gubernur. ***