Senin, 03 Desember 2007

DUNIA TANPA SUBJEK

SEBUAH kecenderungan di dalam struktur peradaban Modern. Yang tidak lagi memahami apa itu sebuah realitas, yang melahirkan perwujudan baru tentang dimensi realitas. Kematian nalar atas sebuah realitas menjadi tema sentral sebuah peradaban. Kecerdasan yang rasional belum cukup sebagai gambaran realitas manusia. Kesejatian tentang sebuah kondisi, yang di dalamnya kepalsuan berbaur dengan keaslian; masa lalu yang bercampur dengan masa kini; rekayasa yang bersenyawa dengan fakta. Sebuah kematian realitas yang mengawali hidupnya sebuah naluri yang asing. Sirna dan mati, nilai dan makna adalah sebuah tanda, yang terkait dengan status ontologis bahasa. Itulah dunia Posmodernisme. Dunia yang dipenuhi cibiran atas kesejatian realitas, dunia dengan ke-tumpangtindih-annya yang menciptakan realitasnya sendiri. Posmodernisme yang merupakan sebuah budaya, yang di dalamnya hidup berbagai ilusi, mimpi, simulasi, kesemuan, kedangkalan, yang kulit arinya dipermak dan dikemas menjadi sosok mahluk komoditi, yang tulangnya dikontruksikan secara sosial, dan dagingnya di labelkan melalui komunikasi dagang, hingga mewujud sebagai sosok realitas. Dunia tanpa subjek adalah dimana budaya menjadi parodi, sosial menjadi parodi, politik menjadi parodi, perselingkuhan menjadi parodi, nasehat dan dakwah menjadi parodi, perjuangan menjadi parodi, keniscayaan menjadi parodi, percintaan hingga kemiskinan menjadi parodi. Tak ada nilai yang tak terparodikan, tak ada makna yang tak terparodikan...dan tak ada seorang aktorpun yang luput menjadi komedian...yang sialnya, ikut terparodikan. Dunia tanpa subjek adalah dunia yang penuh ledekan, bahan tertawaan (cengengesan), kekonyolan, plintat-plintut, Sebuah kampung hegemoni pada semesta maya yang teridentifikasi sebagai dunia tanpa koma. Ada rasionalitas yang menuduh bahwa yang asing adalah ruang kosong. Setelah apa yang dilakoni nalar berhenti, disinilah peran intuisi bekerja, menembus dimensi spiritual menuju yang asing. Kemampuan mengenal yang asing dikenali dg mengkondisikan nalar pada level tertentu dan mempertajam ujung intuisi. Tapi inilah satu hal yang tak dapat dilakukan oleh nalar puitis, karena hanya dimensi ruang kosonglah dimensi yang asing, dimensi yang dijadikan sebagai tertuduh, suatu dimensi kesunyian yang mampu mengelaborasi kesejatian realitas.Subjek harus ditentukan, objek harus dipastikan. Ketidakpastiannya merupakan ketidakseimbangan sebuah kosmos yang bisa berakibat fatal atas rotasi alam. Ketertiban sebuah kosmos alam harus merefleksi pada kesempurnaan rotasi akal. Hingga kematian dan kemusnahan tanda menjadi suatu nihilitas atas diri kesempurnaan manusia. Karena sirnanya nilai, matinya makna adalah hidupnya nalar puitis, nalar yang bekerja di tanah yang tak berdasar antara realitas. ***

2 komentar:

Andi Ade mengatakan...

Ya, dunia telah kehilangan makna, mati dalam nilai.. Ada sebuah poros, antara realitas dan citra, antara kebenaran dan kepalsuan. Wilayah anasir, abu-abu dan tak jelas: KITA SEMUA DI SANA!

andiharun mengatakan...

Hmmmm. Mantap.