Senin, 24 Desember 2007

SENTUHAN KEMANUSIAAN DI LAGU BANG IWAN (sebuah renungan)

Dit... dit... dit...., ringtone handphone N9210i yang selalu saya gunakan berdering, tanda short message send (SMS) masuk. Saat dibuka terbaca pesan dari Abang Andi Ade Leppu Fathir yang menyampaikan pesan bahwa akan ada pertemuan ICON di Deijima Cafe jam 16.00 wita (24/12/2007). ‘Ok.. siap’ jawab saya membathin.

Karena pertemuan masih beberapa jam lagi, saya mencoba untuk mengutak-atik Radio untuk mencari frekuensi yang tepat. Tak lama, dari stasiun radio swasta (FM) terdengar lagu dari Bang Iwan (Iwan Fals) dengan judul Sarjana Muda dan Manusia ½ Dewa.

Sebetulnya lagu itu sudah terbiasa saya dengar, bahkan saat di Surabaya beberapa waktu lalu, Sahabat yang sekaligus sebagai kakanda saya, Andi Harun, dalam setiap kesempatan di ‘karaoke home’ selalu mendendang lagu Bang Iwan yang berjudul Manusia ½ Dewa. Tapi entah kenapa, siang hari itu kok sangat berbeda dalam pendengaran saya.


======== @@@@@ ========



BIASANYA orang yang meliris lagu, banyak bicara tentang cinta yang mengandaikan keserbacukupan materi, cinta yang membuat kebanyakan orang Indonesia menjadi lupa akan kondisi sosialnya, cinta yang cengeng, genit, glamor dan norak.

Namun berbeda, jika setiap kali mendengar lagu-lagu Iwan Fals (Bang Iwan), banyak orang yang sejenak tersadar akan kondisi sosial tanah air. Lirik-lirik lagunya bagaikan kolaborasi antara ‘ayat-ayat Tuhan’ dan resonansi kondisi sosial Indonesia sendiri.

Yang terpenting adalah kandungan renungan dan penghayatan subjektifitas atas lagu-lagu, serta karakter pribadinya. Kita mungkin tidak hafal betul tahun berapa tiap lagu Bang Iwan diciptakan. Mungkin itu tak penting. Yang lebih penting adalah menghafal inti pesan yang terkandung dalam lirik-liriknya. Melalui lagu-lagunya, kesadaran akan kondisi sosial-politik Indonesia mudah terkonstruksi di kepala Orang Indonesia (OI). Bang Iwan mungkin bisa disebut guru sosiologi terbaik, paling tidak bagi Orang Indonesia.

Dari lirik lagu-lagunya, orang mudah menilai Bang Iwan sebagai sosok pemberontak’. Setiap nurani yang hidup akan mudah menemukan bahwa disini’ ada ketidakadilan, penindasan, dan, kerusakan moral. Hanya saja, ketidakjujuran memperumit semua itu, sehingga orang tak mampu mengatakannya.

Kita lalu ‘kompak’ terserang amnesia ketika berhadapan dengan nilai-nilai. Karena itu, yang menonjol di negeri ini adalah para durno, kancil, bandit, karet, bunglon, dan lain-lain.

Kelebihan lirik lagu Bang Iwan yang paling mencolok adalah kenyataan bahwa ia tidak lahir dari ruang hampa. Lirik-liriknya lahir dari hasil jepretan atas kondisi sosial politik Indonesia sendiri, dengan penggunaan kata-kata sederhana, telanjang, dan kadang-kadang jenaka.

Pandangan yang humanis ini tentu tak akan kita temukan pada diri orang yang tak punya kesadaran sosial dan spiritual yang mendalam. Dalam politik, orang mungkin akan mencemooh Bang Iwan andai dia menjadi seorang politisi. Pandangan-pandangan politik yang ada dalam lagu-lagunya tidak akan dijadikan mars oleh para demonstran jika dia ikut dalam ‘dunia pestapora para binatang’.

Bagi Bang Iwan, panggung politik adalah panggung para binatang yang merasa diri sebagai bintang (judul lagunya Asyik Gak Asyik di album Manusia ½ Dewa).

Walau lirik dalam lagu-lagunya begitu kental pesan-pesan moral (di balik kritik sosial pasti ada pesan moral) yang realistik dan eternal, namun kerendahan hati dan ketenangan tampak begitu inheren dalam dirinya akhir-akhir ini. Gaya bicara yang tak lantang lagi, menunjukkan bahwa Bang Iwan sadar bahwa dirinya bukanlah manusia setengah dewa.

Mendengarkan lagu-lagu cinta Bang Iwan, kita akan menangkap bahwa cinta yang dihayatinya adalah cinta orang-orang marjinal.

Seorang kawan pernah menyatakan ketidaksetujuannya pada Bang Iwan, karena dia pernah mengeritik Tuhan dalam salah satu syair lagunya, Tolong Dengar Tuhan!. Jika disikapi dengan nalar terbuka, lagu itu justru merupakan ekspresi penghayatan tentang alam semesta dan Tuhan yang dialami oleh orang yang bebas dan berani. Dalam dunia filsafat, penghayatan seperti itu justru banyak diungkapkan oleh para filsuf. ***

1 komentar:

Andi Ade mengatakan...

Bung Roby, Iwan Fals itu hanya "beruntung" jadi penyanyi. Coba suruh masuk partai politik, lalu jadi anggota dewan, lalu jadi bupati di Kukar atau di mana saja di tengah sistim yang menjebak ini; maka saya yakin cerita akan jadi lain...