Detik-detik menjelang Pilgub 2008, kita bisa menyikapi dua hal, yakni politik uang dan kebohongan publik. Sudah menjadi tradisi kampanye apa pun di
Ilusi, bagi Sigmund Freud, semacam luapan ketidaksadaran yang muncul dari alam bawah sadar manusia yang setiap saat mempunyai potensi menguasai kesadaran. Bagi Karl Marx, ketidaksadaran itu diidentifikasi sebagai kesadaran palsu.
Fenomena semacam itu masih mewarnai pelaksanaan politik di
Biar bagaimana pun elite politik, sebagai suatu kelas, merupakan sumber-sumber perilaku politik yang irasional. Mereka menyadari bahwa rakyat
Seharusnya, elite politik bukannya melegitimasi perilaku irasional dan meramunya menjadi ‘obat bius’ hegemonik.
Materi kampanye yang sesungguhnya di dalam politik rasional adalah platform politik, memberi penjelasan-penjelasan dan rincian-rincian platform. Kampanye politik tidak sama dengan iklan sabun atau jual obat yang harus banyak memberikan ilusi. Tidak sama pula dengan jual kecap di mana semua kecap selalu nomor satu, tanpa menjelaskan mengapa dan bagaimana.
Janji-janji politik yang tidak mendasar dan realistis akan dipandang sebagai janji politik yang sesungguhnya, yang bila saatnya tiba akan menjadi indikator keberhasilan dari partisipan pemilih yang bersifat ilutif pula. Sebab, janji politik dalam politik rasional haruslah berwujud pada kontrak politik atau konsensus dengan masyarakat pemilih.
Aturan kampanye atau tata tertib barangkali telah sempurna. Namun, tidak semua aturan itu mampu mengontrol pesan-pesan kampanye yang berisi kesadaran palsu tersebut. Karenanya elite politik itu sendiri yang secara sadar mendorong transformasi sosial ke arah perilaku politik yang rasional dalam membangun demokrasi ***
1 komentar:
Sepertinya, kita masih harus bersiap kecewa lagi karena kandidat dan partai akan mengulangi lagi 'kebisaan' buruk itu. Itulah wajah politik 'negeri' kita yang sedang hamil tua ini.
Posting Komentar