Kamis, 20 Desember 2007

ILUSI POLITIK

AMBIL duitnya, jangan coblos orangnya’. Slogan semacam itu populer sesaat menjelang pemilu. Selain itu ada istilah ‘serangan fajar’, kendati tak ada jaminan menambah partisipasi publik dalam melakukan pencoblosan.

Detik-detik menjelang Pilgub 2008, kita bisa menyikapi dua hal, yakni politik uang dan kebohongan publik. Sudah menjadi tradisi kampanye apa pun di Indonesia sarat dengan ‘mengumbar janji’ dan sebatas ilusi.

Ilusi, bagi Sigmund Freud, semacam luapan ketidaksadaran yang muncul dari alam bawah sadar manusia yang setiap saat mempunyai potensi menguasai kesadaran. Bagi Karl Marx, ketidaksadaran itu diidentifikasi sebagai kesadaran palsu.

Tak heran jika selain money politic, pola hegemonisasi dan irasionalisasi mewarnai proses kampanye. Pola-pola perilaku politik yang irasional sudah tentu akan berimplikasi pada upaya peraihan kekuasaan secara legal, salah satunya lewat kampanye. Kampanye tidak lain berisi pesan-pesan yang tidak ada korelasi dengan perjuangan politik, namun cukup ampuh untuk meraih dukungan politik dari partisan pemilu.

Fenomena semacam itu masih mewarnai pelaksanaan politik di Indonesia , termasuk di masyarakat perkotaan. Barangkali, menyikapi politik uang, partisipan pemilih sudah bisa bersikap rasional. Mengambil uangnya, tanpa mencoblos partai/orangnya. Namun, pada fenomena lain, masyarakat kita masih mencerminkan perilaku politik yang irasional atau kesadaran palsu.

Biar bagaimana pun elite politik, sebagai suatu kelas, merupakan sumber-sumber perilaku politik yang irasional. Mereka menyadari bahwa rakyat Indonesia masih dalam proses transisi ke modernitas dan demokrasi. Perilaku pemilih yang irasional merupakan potensi efektif untuk meraih dukungan mobilitatif.

Seharusnya, elite politik bukannya melegitimasi perilaku irasional dan meramunya menjadi obat bius’ hegemonik.

Materi kampanye yang sesungguhnya di dalam politik rasional adalah platform politik, memberi penjelasan-penjelasan dan rincian-rincian platform. Kampanye politik tidak sama dengan iklan sabun atau jual obat yang harus banyak memberikan ilusi. Tidak sama pula dengan jual kecap di mana semua kecap selalu nomor satu, tanpa menjelaskan mengapa dan bagaimana.

Janji-janji politik yang tidak mendasar dan realistis akan dipandang sebagai janji politik yang sesungguhnya, yang bila saatnya tiba akan menjadi indikator keberhasilan dari partisipan pemilih yang bersifat ilutif pula. Sebab, janji politik dalam politik rasional haruslah berwujud pada kontrak politik atau konsensus dengan masyarakat pemilih.

Aturan kampanye atau tata tertib barangkali telah sempurna. Namun, tidak semua aturan itu mampu mengontrol pesan-pesan kampanye yang berisi kesadaran palsu tersebut. Karenanya elite politik itu sendiri yang secara sadar mendorong transformasi sosial ke arah perilaku politik yang rasional dalam membangun demokrasi ***

1 komentar:

andiharun mengatakan...

Sepertinya, kita masih harus bersiap kecewa lagi karena kandidat dan partai akan mengulangi lagi 'kebisaan' buruk itu. Itulah wajah politik 'negeri' kita yang sedang hamil tua ini.