Rabu, 08 Oktober 2008

“Minal Aidin Wal Faidzin”



ADA tradisi baik sekali di negeri kita berkenaan dengan Idul Fitri yang sayang kini sudah agak ‘luntur’ bersamaan dengan ‘majunya zaman’.

Dulu ketika kehidupan masih sederhana dan sebelum orang kenal dengan makhluk yang namanya materialisme, di Idul Fitri atau hari Lebaran ada tradisi saling kunjung-mengunjungi, silaturahmi, dan saling memaafkan di antara sesama. Bahkan menurut cerita orang-orang tua, dulu dalam silaturahmi, mereka meminta maaf dengan memerinci kesalahan-kesalahan mereka yang sudah diperbuat. Berangsur-angsur tradisi silaturahmi itu digantikan dengan kartu lebaran dengan ucapan yang nyaris seragam, “Selamat Hari Raya Fitri, Minal ‘aidin wal faizin, Maaf lahir batin”. Dan kini malah cukup dengan sms, pesan melalui HP, seperti: ‘Met Lebaran! Maaf ya choy!”.

Bergaul dengan Tuhan, sebetulnyalah lebih enak dibanding dengan sesama manusia. Lembaga pengampunan Tuhan banyak sekali. Kita mengaku salah dan beristighfar, Allah memaafkan.

Berbeda dengan Tuhan, bergaul dengan manusia justru lebih sulit. Manusia punya dendam, punya hati yang rentan dan karenanya sulit memaafkan. Momentum yang paling diharapkan manusia mudah memaafkan (dan meminta maaf) ya setelah Ramadan, di Idul Fitri ini. Karena dada-dada mereka sedang lapang setelah dosa-dosa mereka kepada Allah telah diampuni. Bila di Idul Fitri saja, orang tidak meminta maaf atau memaafkan, maka di kesempatan lain pasti lebih sulit.

Soalnya, meskipun dosa kita kepada Allah telah diampuni, apabila kita mempunya dosa kepada sesama dan yang bersangkutan belum memaafkan, akan terus menjadi ganjalan yang bisa mencelakakan diri kita di hari Kiamat.

Ada hadis shahih yang seharusnya membuat kita khawatir dan berhati-hati, “Orang-orang yang benar-benar bangkrut –di antara umatku—ialah mereka yang datang di hari Kiamat dengan membawa (seabrek) pahala salat, puasa, dan zakat; tapi mereka datang setelah (di dunia) mencaci ini, menuduh itu, memakan harti si ini, melukai si itu, dan memukul si ini. Maka diberikanlah pahala-pahala kebaikan mereka kepada si ini dan si itu. Jika habis pahala-pahala kebaikan mereka sebelum terpenuhi apa yang menjadi tanggungan mereka, maka diambillah dari dosa-dosa orang-orang yang pernah mereka salahi dan ditimpakan kepada mereka, kemudian dicampakkanlah mereka ke api neraka.” Na’udzu biLlah!

Melihat itu semua, terutama mengingat kebaikan serta murahnya Tuhan dan sulitnya manusia, kita pantas heran terhadap mereka yang ketika bergaul dengan Tuhan begitu pethenthengan, sok ngepas-ngepaskan kadang sampai was-was. Bahkan ada yang bukan hanya menjaga ‘hak Allah’ atas dirinya sendiri, tapi juga berlagak menjaga ‘hak Allah’ atas diri orang lain.

Sementara saat bergaul dengan sesama manusia seenaknya saja. Begitu sembrononya sikap mereka terhadap sesama hamba Allah hingga menyakiti hati dan merampas hak orang lain mereka anggap biasa. Ada yang lebih konyol lagi: menyakiti dan merampas hak hamba Allah sambil membawa-bawa nama --atau atas nama—Allah! Yang terakhir ini, sungguh keterlaluan. Apakah mereka tidak sadar bahwa dengan perilaku mereka yang semena-mena terhadap hamba Allah atas nama Allah itu berarti mereka telah menodai ke-maha rahmat-an Allah, di samping telah berburuk sangka kepadaNya?

Kita sering mendengar istilah hablun minaLlahi dan hablun minannaas; saya pikir yang lebih aman adalah menjaga ‘hak Allah’ dan ‘hak hambaNya’ secara seimbang. Hak Allah adalah disembah. Kita wajib beribadah kepadaNya. Dan jangan lupa bersikap baik dengan hamba-hamba Allah adalah bagian dari ibadah kepadaNya. Memuliakan manusia adalah bagian dari mencari ridhaNya, karena Ia sendiri memuliakannya.

Di Hari Fitri ini, Al Faroby beserta keluarga mengucapkan, “Selamat Idul Fitri 1429 H. Iidun Sa’iid; Wakullu ‘aamin wa antum bikhair!” Ada salah tutur kata dan sikap laku saya selama ini yang --pasti tidak saya sengaja—melukai hati siapa pun Anda, dengan kerendahan hati saya memohon maaf lahir dan batin. Allah menyukai mereka yang pemaaf dan mereka yang berbuat baik. ***

Rabu, 03 September 2008

Marhaban Ya Ramadhan

ASSALAMU’ALAIKUM …, Selamat hari Senin di awal bulan September 2008 yang juga bertepatan di hari pertama Bulan Ramadhan 1429 H. Sangat pantas kiranya, saya mengucapkan ‘Marhaban Ya Ramadhan’ – selamat datang di bulan yang penuh rahmat dan pengampunan.
“Selamat Menjalankan Ibadah Puasa”, begitulah kira-kira pesan pendek (SMS) melalui telepon selular yang saya terima dari sahabat saya non-muslim. Kata-kata tersebut mungkin biasa, tapi setelah saya hayati terkandung makna yang cukup universal dan selaras dengan nilai-nilai multikultural. Karena, Salah satu ajaran yang memperlihatkan adanya kesamaan nilai dalam keragaman budaya adalah puasa. Ia merupakan ajaran agama yang diwariskan dari agama-agama sebelumnya.
Dalam konteks lebih luas, seolah agama hanya dipahami sebagai persembahan untuk Tuhan. Pada titik ini, Tuhan dibingkai sesuai dengan keyakinan masing-masing. Padahal Tuhan “memproklamirkan” dirinya sebagai penebar cinta kasih untuk semua umat manusia dalam keragaman budaya (multikulturalisme), tanpa merendahkan satu budaya dan mengagungkan budaya lainnya, anti-dominasi.
Sebagai bulan suci, puasa hendaknya bisa dijadikan titik tolak untuk menyemaikan nilai-nilai multikultural. Dahulu kala, dalam menyebarkan misi Islam di Indonesia, para Wali Songo pernah memakai metode dakwah multikultural. Yaitu agama lintas budaya tanpa membedakan ragam budaya, lintas etnik tanpa mengagungkan etnik tertentu, dan lintas jender tanpa memuliakan jenis kelamin tertentu. Apalagi kaya-miskin. Pendek kata, agama dihadirkan di ruang publik sangat humanis-multikulturalis.
Dalam multikulturalisme tidak ada dominasi budaya mayoritas dan tirani budaya minoritas. Dimensi multikulturalisme ini sebenarnya tersirat kuat dalam Islam dengan pernyataan bahwa Islam adalah penebar kasih sayang bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin). Pengejawantahan dari pernyataan tersebut tidak hanya dalam konteks teologis, tetapi sosial budaya. Islam, seperti yang tercermin dalam sikap Rasulullah, juga sangat menghargai eksistensi pluralitas budaya dan agama.
Puasa sebagai tradisi agama-agama yang memiliki makna universal harus dijadikan energi positif bagi menguatnya pemahaman multikultural yang disemangati oleh nilai-nilai ketuhanan (rabbaniyah) dan kemanusiaan (insaniyah). Transformasi spiritual dan semangat multikultural yang dicapai lewat puasa, idealnya bisa dinikmati dan dirasakan oleh seluruh umat manusia tanpa terjebak oleh sekat-sekat budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun teologis, apalagi politis.
Dalam rangka itu, maka pemahaman terhadap agama-agama harus dilakukan dalam konteks kesamaan misi universal kemanusiaan. Universalitas ini tidak akan mematikan potensi-potensi khas yang ada dalam agama maupun budaya yang beragam. Justru potensi-potensi tersebut bisa tumbuh bersama dalam keragaman (multikultural).
Dan ini hanya akan terselenggara apabila ada komitmen dan kesungguhan semua komunitas atau jamaah budaya dan agama baik sebagai mayoritas maupun minoritas untuk bersikap inklusif dan toleran secara setara untuk kepentingan bersama. Inilah semangat dalam pelaksanaan puasa, yaitu sebuah semangat keagamaan yang ramah terhadap ragam budaya. Dengan demikian, agama bisa tampil sebagai milik semua untuk bersama. Semoga!

Selasa, 24 Juni 2008

ICON Road to . . .




Baru ini yang (masih) bisa kami lakukan...
Entah, apakah hal ini bisa di klaim sebuah kerja nyata -- dan besar -- menuju sebuah perubahan paradigma politik lokal...???

re GENERASI



PELAKSANAAN Pemilu 2009 tidak sampai satu tahun, bahkan beberapa tahapan pen-caleg-kan sudah dilakukan KPU se Indonesia. Pertanyaannya, mungkinkah Pemilu 2009 akan melahirkan pemimpin masa depan visioner yang membuat bangsa ini bangkit dari keterpurukan? Apakah kaum muda sebagai bagian generasi baru bisa memperoleh peran yang strategis?
Mencermati wacana di masyarakat, dari obrolan manis ‘kelompok marginal’ di warung kopi malam (baca: warung jenggo), hingga akademisi dan para ahli, sepertinya mereka tidak yakin Pemilu 2009 akan melahirkan pemimpin visioner. Bagaimana mungkin, negeri yang dipimpin oleh para kaum oligarki dan predator bisa melahirkan ‘ratu adil’ yang akan membawa kabar baik bagi kaum lemah dan tak mampu.
Pesimisme akan munculnya pemimpin masa depan visioner dipengaruhi oleh lemahnya "kapital moral" para politisi di negeri ini. Sedangkan kapital bukan sekadar potensi kebajikan yang dimiliki seseorang, melainkan potensi yang bisa menggerakkan roda politik.
Tindakan politik yang menyangkut kinerja pemimpin politik dalam menerjemahkan nilai-nilai moralitasnya ke dalam ukuran-ukuran perilaku, kebijakan, dan keputusan politiknya juga menjadi prasyarat bagi seorang pemimpin yang akan membela kaum lemah. Namun, pada level ini, para politisi dan partai politik lebih sedikit lagi yang bisa lolos. Hampir tidak ada partai yang sungguh-sungguh setia pada fatsoen politik atau sanggup menerjemahkan klaim ideologisnya ke dalam bentuk kebijakan dan agenda politik yang mencerahkan.
Keefektifan komunikasi politik tentu tidak bisa diabaikan begitu saja, karena ia menyangkut kemampuan seorang pemimpin untuk mengomunikasikan gagasan serta nilai-nilai moralitasnya dalam bentuk retorika politik yang efisien. Efektivitas komunikasi pemimpin politik kita selalu gagal. Kegagalan itu bukan hanya mencerminkan kelemahan dan amatirisme perseorangan, tatapi juga karena absennya mekanisme pertanggungjawaban publik
Realitas kelabu ini hanya membuat masyarakat terombang-ambing dalam ketidakpastian: antara tertarik ke orbit romantisme atau menggagas masa depan. Pada titik inilah, kekecewaan dan pesimisme mulai muncul.
Masih ada secercah harapan di tengah kusutnya masalah kebangsaan Indonesia: yaitu kaum muda. Harapan itu kita bebankan kepada kaum muda yang memiliki stok "kapital moral" yang kuat namun berada di luar pemimpin-pemimpin yang beredar selama ini. Masih ada calon pemimpin (nonpartai) masa depan visioner, namun sejauh ini tidak diberi ruang untuk mentransformasikan kekayaan "kapital moralnya" menjadi kapital bergerak, yang diinvestasikan ke dalam arena politik untuk membawa perubahan.
Tak ada kata terlambat, sebab masih ada waktu untuk melakukan seleksi. Kita dorong rakyat untuk memilih mereka (kaum muda) yang pantas menakhodai negeri ini di masa yang akan datang. Mereka (para kaum tua) yang sebelumnya bermain-main dengan kekuasaan bersiap-siaplah untuk ke luar dari arena pertempuran: karena rakyat sudah "muak" dengan pemimpin yang bermental "pecundang dan pengecut." Masih ada sedikit nurani jernih "berkapital moral" kuat yang peduli atas nasib bangsa ini, yaitu kaum muda. ***

Pilgub dan Kecerdasan Politik Publik


TAHAPAN pelaksanaan Pilgub putaran II di Kaltim, saat ini sedang disusun KPU Kaltim. Namun atmosfer politik mulai terasa panas, dan pasangan calon saling minta dukungan ke elit politik ataupun fatwa MA.
Kondisi itu lumrah dalam riak politik. Toh, akhirnya keputusan berada di tangan rakyat. Siapa yang menang dan siapa yang kalah ditentukan dalam satu dua menit di bilik suara, mendatang.
Yang tidak lumrah, justru ketika demokrasi (baca: pilgub) hanya menjadikan publik, tidak lebih dari sekadar 'bemper' politik. Hal itulah yang selalu ditakuti Sokrates, salah seorang filsuf Yunani, sejak kemunculan demokrasi pertama kali kira-kira lima abad sebelum tarikh Masehi dalam masa Yunani Antik di Kota Athena, berabad-abad lalu.
Menurut Sokrates, demokrasi memungkinkan suatu wilayah diperintah oleh orang-orang yang tidak pro rakyat, hanya karena mendapat banyak dukungan.
Hal ini dikarenakan para pemilih cenderung memberikan suaranya kepada orang-orang yang disukai, bukan pada orang-orang yang kompeten. Akibatnya, kebijakan yang dihasilkan justru mengesampingkan nasib kaum marjinal.
Parahnya lagi, ketakutan Sokrates di atas kerap terjadi pada wilayah-wilayah dengan jumlah penduduk miskin yang banyak, tingkat pendidikan rendah, angka buta aksara tinggi, institusi sosial-politik lemah.
Demokrasi gampang dimanipulasi oleh elite-elite politik oportunis dan pemimpin despotik yang menawarkan janji-janji populis agar bisa terpilih sebagai wakil rakyat di parlemen atau pejabat pemerintahan.
Kondisi ini tentu saja merupakan potensi besar bagi para pialang politik yang berwatak Machavelian, untuk memanipulasi demokrasi demi suksesnya perebutan kekuasaan, termasuk dengan menciptakan pertentangan, peperangan dan anarkisme.
Memang tak mudah membebaskan masyarakat untuk sadar politik. Pasalnya hampir 32 tahun masyarakat hanya dijadikan floating mass dalam perpolitikan. Pada masa itu, politik hanyalah urusan kaum elite. Satu-satunya keterlibatan masyarakat dalam aktivitas politik adalah ketika pemilu tiap lima tahun sekali.
Kendati demikian, bukan tidak ada cara menciptakan kecerdasan politik publik. Setidaknya ada tiga cara yang memungkinkan untuk itu. Pertama, komitmen kandidat cagub dan cawagub untuk menerima segala konsekuensi dari pertarungan politik; siap menang dan kalah. Dengan begitu, harapannya terbangunlah kesadaran bahwa menang dan kalah adalah bagian dari kehidupan politik. Harus diterima secara legowo apa pun hasil dari pilgub itu.
Kedua, keterlibatan secara penuh para aktivis mahasiswa, LSM, dan partai politik yang progresif dan memiliki wacana pembebasan rakyat untuk terus mendidik rakyat, untuk cerdas tidak hanya secara didaktis melainkan juga secara politik.
Terakhir adalah media massa. Media massa setidaknya mampu menjadi jembatan guna terciptanya politik damai.
Dengan keterlibatan penuh ketiga elemen tersebut diharapkan upaya-upaya memanipulasi demokrasi dalam Pilgub Kaltim bisa diminimalisasi. Dengan demikian Pilgub Kaltim benar-benar merupakan ruang demokrasi rakyat yang sejati. Semoga!***

Jumat, 08 Februari 2008

(HANYA) 2 JAM (bagian -2)

(Kami saat berada di atas Kapal Fery Trunojoyo menuju Penajam Paser Utara)
KRING…kring…kring…. Suara telepon di kamar hotel yang saya jadi tempat menghilangkan penat berbunyi dan membuat saya terbangun dari tidur.. “wah .. sudah jam 7.30” pikir saya. Dengan sigap, saya angkat gagang telepon… “Halo… sapa nih,” tanya saya. “Kak Roby ya… ini Kiki, katanya disuruh nyusul ke hotel aja? Kak Muchlis mana,” jawab Aspri Kakanda Abrianto yang cukup manis itu. “Muchlis di kamar sebelah. Naik aja ke kamar saya dek, ntar sama-sama sarapan,” jawab saya.
Setelah mandi dan bersih-bersih badan, saya bersama Muchlis dan Adinda Kiki sarapan bareng di restoran Hotel Mirama. Ya walaupun makannya kurang mengundang selara, tapi kami bertiga makan juga (mungkin karena lapar disebabkan perut kosong dan mulai bernyanyi). Ya sekadar makan nasi goreng ala hotel Mirama dan roti bakar.
“Jam Bang Abri (anto amin) datang dari Jakarta, naik pesawat apa?” tanya saya ke Kiki sambil menimkati nasi goreng. “Tadi malam Bang Abri sms katanya jam 10 sudah sampai di Balikpapan, naik pesawat Lion Air,” jawab kiki. “Wah pas itu. Nanti langsung ke rumah jabatan Pak Imdad (Walikota Balikpapan) aja bos,” sambung Muchlis. “he eh,” gumam saya singkat.
Usai sarapan, saya dan Muchlis siap-siap menjemput Wakil Direktur Ekekutif (Abrianto Amin) ke Bandara Sepinggan Balikpapan. Di perjalanan menuju Bandara, Sahabat Muchlis menerima telepon dari Imdad Hamid yang menginformasikan bahwa menunda pertemuan, disebabkan Imdad mengikuti acara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Panglima Kodam VI Tanjungpura.
“Pak Imdad minta ketemu jam 12 an bos.. gimana nih,” tanya Muchlis. “Ya entar kita bicarakan sama Bang Abri lah gimana baiknya. Karena kita juga ngejar jadwal sama Pak Ridwan (Bupati Paser),” ujar saya memberikan pertimbangan.
Sekitar pukul 10.21 Wita, kami tiba di Bandara Sepinggan. Ternyata Bang Abri sudah menunggu di coffe shop Sepinggan, setelah ngobrol dengan beberapa kolega yang kebetulan bertemu di Sepinggan, akhirnya kamipun meninggalka Bandara bertaraf Internasional di Kaltim itu.
TRAGEDI SANDAL
Karena pertemuan dengan Imdad Hamid kami batalkan, akhirnya kami sepakat untuk kembali ke hotel, ya sekadar menemani Sahabat Abri istirahat dan mandi. “Belum sempat mandi saya tadi di Jakarta,” katanya. Sebelum ke hotel, kami singgah dulu di Rumah Makan Ponorogo, untuk menikmati Nasi Pecel. “Konon menurut kabar, nasi pecel di situ adalah nasi pecel yang paling enak di Balikpapan”.
Usai menikmati satu piring nasi pecel, kami pun meneruskan perjalanan menuju Hotel Mirama. Setelah rehat sejenak dan bersih-bersih badan, kamipun bergegas check out dari hotel, karena ingin segera mengejar jadwal pertemuan dengan Ridwan Suwidi. “Jangan sampai batal lagi nih,” cetus Muchlis.
“Eh bos… jangan pake sepatu. Kan biasanya kalo setir mobil, sepatu kan pasti dilepas. Jadi pake sandal hote aja bos,” tegus Muchlis kepada saya, yang saat itu hendak memakai sepatu. Karena saran itu saya pikir bagus, saya turuti ‘nasehat’ Sahabat saya itu. “Ya supaya gak ribet lah,” pikir saya.
Apa karena terburu-buru atau konstruksi tangga Hotel Mirama yang licin atau ada faktor x, tiba-tiba “Gedubrak…. Brak… prok…” saya terbanting dari lantai 2 menuju lantai 1 dengan terbanting beberapa kali. “Roby jatuh…. Wah bisa geger otak nih,” teriak Sahabat Muchlis yang hampir berbarengan dengan jeritan Kiki. Sahabat Abri yang saat itu berada di lantai tiga, langsung bergegas turun melihat kondisi saya – yang menurut Kiki berwajah pucat dan setengah pingsan. “Gimana? Gak papa khan? Dibawa ke Rumah Sakit kah?” begitu kurang lebih sayub-sayub saya mendengar pertanyaan yang dilontarkan Sahabat Abrianto ke Kiki dan Muchlis.
Beberapa security hotel dan pihak Receptionis Hotel datang dan menawarkan untuk segera menjalani perawatan medis di RS Restu Ibu Balikpapan. “Gak usah… saya mau baring dulu. Mudah-mudahan gak apa-apa,” ucapku.
Setelah beberapa saat istirahat, dengan nada kecil saya sempat bergumam “Busyet nih tangga. Seharusnya hotel perlu ada SOP (standart operation procedure) dalam konstruksi bangunannya”.
Setelah merasa agak mendingan, akhirnya kami berempat melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan penyeberangan Fery Kariangau, Balikpapan. ‘I am Coming Paser” mungkin begitu ucapan kami masing-masing dalam hati. ***

Rabu, 23 Januari 2008

DARI sebuah ngobrol ringan, Diskusi kecil, mencoba untuk mensinergiskan cara pandang, memperpadukan kegelisahan atas sebuah realita kehidupan. Percikan ide dan gagasan melahirkan kekuatan alternatif dari 'kekuatan lain', ICON Institute, untuk menjawab semua tanya, semua keraguan, keputus-asaan. ICON Institute hadir bukan sekadar bicara, tapi bukti atas sebuah kerja nyata.

Mr. Andi Harun, Executive Director

Mr. Abrianto Amin, Deputy Executive Director


Mr. Andi Ade Lepu F, Research Director

Mr. Mulyadi, Networking Director


Mr. F Al Faroby, Scientific Infrastructure and Publications Director


Mr. Muchlis Ramlan, Financial and Administration Director


Mr. Mulia Raharja, Organize Director


Note : Ini bukan untuk sekadar tampang wajah bak cover boy yang sedang berpose. Ini hanya sebatas memberikan warna lain plus 'promosi' wajah in the behind ICON Institute. Dan yang terpenting, ini adalah jawaban dari Sahabat plus Kakanda Andi Ade Lepu yang enggan mempublikasikan 'wajah' ICON.

Senin, 21 Januari 2008

(Hanya) ‘2 Jam (Bagian-1)


(Kami kelelahan menempuh perjalanan yang sangat panjang. untuk menghilangkan penat, kami menikmati buah Durian yang sangaaaatttttttt leeeeeeezzzzzzzaaaaaaaattttt)

SAHABAT saya, Muchlis Ramlan, yang juga Financial and Administration Director ICON memberikan kabar melalui Send Message Service (SMS), bahwa Hari Selasa (15 Januari 2008), ICON institute dinanti Walikota Balikpapan (Imdad Hamid) dan esoknya (16 Januari) ditunggu Bupati Paser (HM Ridwan Suwidi).
Pertemuan antara ICON Institute dengan petinggi di dua (2) kota itu, merupakan bagian dari program ICON yang me-road show ke tokoh publik guna berdiskusi dan (akan) di dokumentasikan dalam sebuah buku.
Dari agenda yang di-schedulle Sahabat Muchlis, ternyata beberapa Sahabat tidak bisa turut serta. Sahabat Andi Harun (Exsekutive Dircektor ICON) misalnya, karena kesibukan sebagai pejabat negara serta Wakil Rakyat menyatakan maaf karena tidak bisa menyertai pertemuan ICON dengan tokoh-tokoh itu. Begitu juga dengan Sahabat Andi Ade Lepu F (Riset Director ICON) juga tak bisa ikut. “Maaf ya Dinda, kita juga butuh urusi kebutuhan rumah. Tapi tenang saja, kalau urusan kelar, saya pasti susul,” kilah Bang Andi Ade.
Sementara Sahabat Mulyadi (Networking Director) yang dikenal sibuk diinternal ICON, juga tidak bisa menyertai, karena bertugas sebagai anggota tim penyeleksi Panwas Pilgub mewakili Rektor Universitas Mulawarman. Maklum, sahabat Mulyadi dikenal di kalangan internal ICON sebagai Rektor Unmul secara de facto.
Tak kalah super sibuknya, sahabat saya yang juga tidak bisa menyertai kami ke dua kota itu yakni, Sahabat Mulia Raharja. “Saya sedang mengawal Ulama dari Libanon dan Wakil Syuriah PBNU, DR H Said Agil Sirad bos. Ada acara Tariqoh. Soalnya, kalau tidak ada saya, acaranya bisa gagal bos,” akunya. “Waduh… melebihi gubernur Kaltim ini orang,” kata saya membathin.
Kendati beberapa ‘orang penting’ ICON tidak bisa menyertai perjalanan kami road show, tapi kami berangkat juga. Karena sudah terlanjur janji.
Tepat pukul 18.00 Wita, akhirnya saya bersama Muchalis didampingi Kiki (Gadis yang menjadi Asisten prbadi Sahabat Abrianto Amins – Deputy Exsekutive Director yang diangkat tak langsung menjadi notulis ICON dalam setiap pertemuan) menuju Balikpapan.
Karena esok harinya dijadwalkan bertemu dengan Walikota Balikpapan plus menjemput Sahabat Abrianto. Karena beliau sedang berada di Jakarta bertemu Mendagri untuk membahas RTRW Kaltim.
Perjalanan dengan jarak 114 KM dari Samarinda ke Balikpapan banyak cerita dan angan-angan yang kami bahas bersama. Mulai khayalan ICON akan menjadi lembaga yang besar dan serta menjadi rujukan lembaga lain di Kaltim, bahkan Nasional, hingga pada persoalan ‘babinian’. Yang jelas, dari cerita ngalor ngidul itu, kita semua punya keinginan yang sama, yakni membesarkan ICON sebagai sebuah lembaga.
Tak terasa perut mulai ‘bernyanyi’ tanda harus segera diisi. Maklum perut orang Indonesia yang sulit diajak kompromi. Karena perjalanan masih kurang 60-an KM, kami pun singgah di Rumah Makan Tahu Sumedang – hehehehe… bukan promisi – sekadar untuk mengganjal perut. Kami pun memesan tiga porsi ayam kampung goreng kremes dan 2 porsi tahu sumedang. Setelah kenyang, kamipun ‘cabut’ ke Balikpapan. Akhirnya, kami pun sampai ke Balikpapan tepat pukul 20.45 Wita. ***

Senin, 14 Januari 2008

WAJAH INDONESIA 2009


Ini (mungkin) tulisan yang coba saya publis ke 'penikmat' blog ini berdasarkan saduran dari tulisan dan obrolan singkat sang Budayawan 'nyentrik' Emha Ainun Najib alias Cak Nun. 'contekan' tulisan bukan bermaksud apa-apa, melainkan hanya sekadar ingin menyajikan sesuatu yang berbeda saja. Atau mungkin saat ini saya lagi badmood saja untuk menulis atau hanya sekadar dari pada tidak ada tulisan. Yang jelas, apa pun itu bagaimanapun bentuknya, ini bagian dari 'menuhi' isi blog saja.

***** ^^^^^^ *****


Banyak isu tentang krisis pangan dunia 2009, iklim global, 'rencana' bencana-bencana nasional dst. Perkara hutang luar negeri sebenarnya cukup mandatkan pada Kongres Akuntan Nasional, minta mereka berdiskusi kemudian kasih rekomendasi yang menunjukkan betapa simpelnya sesungguhnya masalah itu untuk kita atasi kalau kita mau.
Masalah kepemimpinan, kita berlimpah-limpah calon Presiden dan Pemimpin Nasional. Tinggal ambil dari teritori mana, golongan apa, parpol, suku, Agama dan apapun saja yang sangat siap dengan kandidat-kandidat Presiden. Bahkanpun kaum Selebritis sangat siap memimpin Indonesia, terbukti dengan begitu banyak urusan yang dipercayakan kepada mereka.
Yang paling nyata adalah semakin tercapainya Persatuan Nasional menjelang 2009. Kita bangsa bersuku-suku, tapi cita-cita satu. Kita berbagai-bagai budaya, tapi gawang kehidupan satu. Kita punya banyak Agama, ragam nilai, pilihan-pilihan di segala sisi kehidupan, tapi obsesi kita satu.
Anak-anak kita boleh pilih masuk kuliah di Fakultas Kedokteran, Ekonomi, Tehnik, bahkan Tarbiyah dan Ushuludin: namun harapan hidupnya satu.


*****

Satu cita-cita itu ialah menjadi kaya. Ada kerbau, ada macan, berang-berang, buaya, cacing, badak dan jutaan macam hewan lagi, tapi cita-citanya sama: ingin terbang dengan pakaian kemewahan.
Macam-macam profesinya, macam-macam permainannya, beragam-ragam kostum dan ayat-ayatnya, namun obsesinya menyatu secara nasional, ialah menjadi kaya. Memang ada klise-klise aplikatif: ingin mengabdi kepada bangsa dan Negara. Ingin berbakti kepada Agama dan masyarakat. Dan mungkin benar awalnya memang bercita-cita seperti itu, tetapi begitu ketemu pintu-pintu gerbang keuangan: mulai penuhlah kepala oleh cita-cita tunggal itu.
Kalau anak-anak kecil dikasih iklim: ingin menjadi dokter, insinyur, Presiden. Tapi ujungnya sama saja, yaitu menjadi kaya. Milih jadi orang kaya meskipun tidak jadi dokter, daripada sebaliknya. Kalau kerja 6 hari menjadi 5 hari, kelak kita runding bagaimana dalam seminggu kita kerja sehari saja dan libur 6 hari, kita sepakati asalkan gaji tetap seperti semula.
Orang memilih tidak kerja tapi dapat gaji daripada kerja tapi tak dapat gaji. Kalau sampai kerja tak dapat gaji maka ayat-ayat tentang hak buruh, HAM dlsb bertaburan di langit dan bumi. Tapi kalau terpaksanya kita balik: tidak kerja tapi dapat gaji, sebenarnya itu yang diam-diam lebih OK dalam hati.
Uang berlimpah jauh lebih menarik dibanding Tuhan. Korupsi jauh lebih dipercaya disbanding hakekat dan metabolisme rejeki. Kalau melebar sedikit: orang diam-diam sudah makin sanggup meragukan Tuhan, tapi tak seorangpun memiliki keberanian untuk meragukan Demokrasi. Orang lebih tertarik pada kekayaan dibanding kesalehan. Orang lebih terpikat oleh uang banyak daripada digniti kepribadian. Orang lebih tergiur pada kejayaan materi dibanding kemuliaan hidup.


*****

Sejumlah orang akan membantah kalimat-kalimat ini. Tapi saya sendiri sudah terlalu tua untuk mampu membantah hal itu. Saya sudah udzur dan ditipu mentah oleh fakta-fakta kehidupan, sehingga sampai menjelang kepala-6 saya belum memulai apapun untuk memperjuangkan karier saya: jangankan lagi untuk menegakkan kebenaran.
Tentu saja kalau yang dimaksud karier adalah berkuasa, kaya dan terkenal: sudah lama - menurut ukuran saya dengan hidup tempe sambal dan menikmati cuci kaos piring: saya tidak memiliki problem apa-apa. Tapi yang saya maksudkan karier adalah mandat kekhalifahan dengan konten dan skala yang jelas yang sudah lama saya siapkan namun tidak ada gejala bahwa sejarah manusia ini memerlukan kualitas kesejahteraan hidup semacam itu.
Menjadi kaya adalah isi utama kepala manusia Indonesia. Dan untuk itu dipilih cara dan jalan yang paling bodoh dan malas: akting menjadi pemimpin, ustadz, artis, wakil rakyat, lembaga zakat infaq atau apapun. Jangan kawatir, tentu saja orang juga menikmati hubungannya dengan Tuhan, kenyamanan bernasionalisme, kesantunan social, estetika dlsb, tetapi itu semua sekunder. Yang primer di kepalanya adalah harus ada kenyataan bahwa ia berlimpah atau sekurang-kurangnya aman di bidang keuangan. Yang dimaksud aman itu takarannya begini: "Wah, rugi saya, ada proyek basah banget tapi gagal memenangi tender...."
Padahal dia tidak rugi apapun. Tidak rugi pun merasa tidak aman. Aman adalah laba sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Dasar moral ilmu ekonomi di seluruh muka bumi ini sejak awal memang curang.
Di luar kaya, unsur lain popular juga: powerfull and famous, berkuasa dan terkenal. Tapi kekuasaan dan popularitas juga membawa visi missinya sendiri: merangsang manusia untuk lebih kaya dan lebih kaya.


*****

Kekuasaan adalah jalan paling popular untuk mencapai cita-cita tunggal itu. Maka tidak ada agenda apapun yang lebih diutamakan dibanding apapun dalam kehidupan bangsa Indonesia melebihi agenda politik. Siang malam, tiap bulan, tiap tahun, headline, ngrumpi, obrolan gardu, apapun saja sesungguhnya berpangkal dan berujung pada agenda politik.
Di sebuah Propinsi saya diajak ketemu oleh seorang Walikota, di saat lain oleh sekelompok pemuda dari suatu komunitas, juga di malam lain seorang pemimpin pembela kaum muskin urban – semuanya untuk agenda yang sama: yakni membicarakan nasib ribuan orang yang berumah di bawah jalan tol.
Tatkala ajakan itu disampaikan kepada saya, saya benar-benar sibuk menonton televisi yang menayangkan berita bahwa Pak Gubernur Propinsi itu sedang naik podium menyatakan akan mencalonkan diri menjadi Presiden mendatang. Khalifah Umar bin Abdul Aziz menangis dan shalat taubat kepada Allah gara-gara seekor onta terpeleser nun jauh di sana namun masih di wilayah tanggung jawab kekhalifahannya. Ia begitu merasa bersalah. Agenda Pak Umar benar-benar berbeda dengan agenda Pak Gubernur. ***