Minggu, 30 Desember 2007

Tahun Baru & Bencana

Saya tidak tahu apakah ada korelasi yang signifikan dengan tahun baru dan bencana yang menjadi ‘langganan’ di republik ini. Tapi oke lah, ada korelasinya ataupun tidak, kita coba refleksi perjalanan bangsa ini di tahun 2007.

Saat Tahun Baru 2008 tiba yang ditandai dengan hingar bingar suara terompet dan pesta kembang api di seluruh jagad. Bahkan orang per oran maupun compeny, jauh-jauh hari sudah men-design, agar malam pergantian tahun menjadi lebih meriah dan semarak.

Namun, situasi itu sangat berbeda seperti yang yang dialami saudara-saudara kita di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta tempat lainnya di wilayah tanah air yang dilanda bencana banjir dan tanah longsor. Mereka tidak memikirkan acara tahun baru-an. Mereka hanya memikirkan bagaimana menyelamatkan diri dan mendapat bantuan berupa obat-obatan dan makanan secepatnya.

Setiap kali melihat kejadian bencana alam melalui media massa, kita selalu disuguhkan dengan pemandangan yang mengharukan perasaaan, batin kita pun tersentuh. Banyak rumah yang hancur akibat bencana alam, korban-korban yang tewas serta warga yang selamat tetapi dengan luka parah.

Meski mereka bukan keluarga kita, tetapi kita ikut merasakan penderitaan hebat. Sayangnya, di tengah kepiluan akibat bencana alam ini, sebagian saudara-saudara kita yang tidak tertimpa musibah seolah tidak peduli dan tidak sedikitpun menunjukkan rasa empatinya dengan apa yang terjadi.

Banyak stasiun TV swasta yang menayangkan berita-berita bencana tersebut, namun berita ini belum menyentuh rasa solidaritas terhadap saudara sebangsa yang menjadi korban bencana.

Acara Tahun baru ini sepertinya disambut dengan dua hiruk-pikuk manusia yang saling bertentangan. Yang satu sibuk berpesta dan hura hura, yang lainnya sibuk menyelamatkan diri dan harta benda yang masih bisa diselamatkan.

Banyak pihak mengharapkan agar acara tahun baru kali ini tidak dirayakan dengan hura-hura, dikarenakan ditempat lain banyak saudara-saudara kita tertimpa bencana. Mereka berharap acara tersebut hanya diisi dengan kegiatan renungan suci atau berbuat sesuatu untuk membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah.

Memang penanganan bencana ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab pemerintah, namun apakah setiap ada bencana harus ditangani pemerintah tanpa dibantu peran aktif masyarakat?

Sampai kapan kita akan terus berdiam diri melihat saudara-saudara kita yang tertimpa musibah? Sudah selayaknya bagi kita yang tidak tertimpa bencana ikut membantu dan meringankan beban penderitaan para korban, sebagai bentuk empati dan rasa kesetiakawanan sesama anak bangsa.

Ini hanya sebuah renungan, apakah masih ada rasa kemanusiaan kita sebagai mahluk yang berasal dari ciptaan yang sama. ***

Senin, 24 Desember 2007

“..... MERRY CHRISTMAS”

Sebagai muslim, saya ingin mengucapkan Selamat Natal bagi umat Kristiani. Saya amat sadar bahwa konsekuensi dari ucapan saya, oleh sebagian kalangan Islam akan dinilai sebagai ketidakkonsistenan dalam beragama. Tapi biarlah, toh semua orang punya kebebasan dalam menafsirkan agama yang dipeluknya.

Islam yang saya peluk bukan Islam yang anti kelompok di luar dirinya. Islam yang saya percaya adalah Islam yang apresiatif dan akomodatif terhadap berbagai ragam etnis, budaya, ras, termasuk agama-agama di luarnya.

Islam dalam pemahaman saya adalah ajaran yang penuh nilai-nilai kemanusiaan. Kalau Rasulullah saja memberikan kebebasan kepada pemeluk agama lain untuk melakukan ritual di masjid milik umat Islam, kenapa kita risih mengucap Natal kepada ‘saudara’ kita yang Kristen?! Bukankah Umar bin Khattab, seorang sahabat Rasulullah juga melakukan shalat di anak tangga Gereja?!

Dalam Tarikh Ibn Khaldun dijelaskan, Umar ibn Khathtab datang ke Syam guna mengikat perjanjian damai dengan penduduk Ramalla. Umar datang kepada mereka dan ditulisnya perjanjian keamanan yang (sebagian) berbunyi: ‘Dengan nama Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dari Umar ibn Khaththab kepada penduduk Ailea (Baytul Maqdis atau Yerusalem), bahwa mereka aman atas jiwa dan anak turun mereka, juga wanita-wanita mereka, dan semua gereja mereka tidak boleh diduduki dan tidak boleh dirusak.

Umar ibn Khaththab masuk Baytul Maqdis dan sampai ke Gereja Qumamah (Qiyamah), berhenti di plazanya. Waktu sembahyang datang, ia katakan pada Patriak: ‘Aku hendak Shalat’ Jawab Patriak: ‘Sembahyanglah di tempat Anda’ Umar menolak, lalu sembahyang di anak tangga yang ada pada gerbang Gereja, sendirian. Umar yang hidup pada masa Rasullullah, melakukan lompatan-lompatan intelektual yang melampaui zamannya.

Kaum muslim juga punya sejarah panjang menjalankan pluralisme, yang tersedia dalam sumber-sumber dan khazanah Islam. Karenanya, mereka diharapkan menjadi kontributor pembangunan proyek pluralisme global.

Saya meyakini fenomena keberagamaan manusia tidak lagi cukup didekati lewat pendekatan teologis semata. Fenomena keberagamaan perlu didekati, diteliti, dipahami, dikritik, bahkan dinikmati lewat kedua cara pendekatan keilmuan, baik yang normatif-teologis maupun kritik historis-filosofis.

Itu diperlukan agar kita memperoleh pemahaman yang kokoh terhadap agama yang kita peluk == having a religion == sekaligus menghargai, berkomunikasi, berdialog, dan bertemu dalam perjumpaan yang hangat.

Alqur’an sering menyebut pemeluk Islam sebagai ummatan wasathan (umat yang moderat). Orang dapat menafsirkan wasatha’ dengan berbagai versi yang dikehendakinya. Umat Islam Indonesia berhak mereproduksi Islam dalam semangat keindonesiaan.

Dalam kasus mengucapkan Selamat Natal, Alquran, kitab suci umat Islam, lebih unik dan lebih lengkap dalam memberikan ucapan selamat. Jika Natal berarti hanya merayakan kelahiran Nabi Isa (Jesus Kristus), Alquran justru memberi selamat pada tiga momen sekaligus: saat kelahiran, wafat, dan kebangkitan kembali. ‘Dan salam sejahtera semoga dilimpahkan kepadaku (Isa Al Masih), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan kembali’ (QS Maryam: 33).

Pluralisme adalah keterlibatan aktif dalam fakta kemajemukan itu. Seseorang baru dapat dikatakan pluralis apabila ia dapat berinteraksi secara positif dalam lingkungan yang majemuk. Dalam pluralisme agama, tiap pemeluk agama bukan saja dituntut untuk mengakui keberadaan dan hak agama lain, tapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna tercapainya kerukunan dalam kebhinekaan.

Akhirnya kepada ‘saudara tua’ - umat Kristiani - saya ucapkan: ‘Selamat Hari Raya Natal. Semoga kita semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan. ***

SENTUHAN KEMANUSIAAN DI LAGU BANG IWAN (sebuah renungan)

Dit... dit... dit...., ringtone handphone N9210i yang selalu saya gunakan berdering, tanda short message send (SMS) masuk. Saat dibuka terbaca pesan dari Abang Andi Ade Leppu Fathir yang menyampaikan pesan bahwa akan ada pertemuan ICON di Deijima Cafe jam 16.00 wita (24/12/2007). ‘Ok.. siap’ jawab saya membathin.

Karena pertemuan masih beberapa jam lagi, saya mencoba untuk mengutak-atik Radio untuk mencari frekuensi yang tepat. Tak lama, dari stasiun radio swasta (FM) terdengar lagu dari Bang Iwan (Iwan Fals) dengan judul Sarjana Muda dan Manusia ½ Dewa.

Sebetulnya lagu itu sudah terbiasa saya dengar, bahkan saat di Surabaya beberapa waktu lalu, Sahabat yang sekaligus sebagai kakanda saya, Andi Harun, dalam setiap kesempatan di ‘karaoke home’ selalu mendendang lagu Bang Iwan yang berjudul Manusia ½ Dewa. Tapi entah kenapa, siang hari itu kok sangat berbeda dalam pendengaran saya.


======== @@@@@ ========



BIASANYA orang yang meliris lagu, banyak bicara tentang cinta yang mengandaikan keserbacukupan materi, cinta yang membuat kebanyakan orang Indonesia menjadi lupa akan kondisi sosialnya, cinta yang cengeng, genit, glamor dan norak.

Namun berbeda, jika setiap kali mendengar lagu-lagu Iwan Fals (Bang Iwan), banyak orang yang sejenak tersadar akan kondisi sosial tanah air. Lirik-lirik lagunya bagaikan kolaborasi antara ‘ayat-ayat Tuhan’ dan resonansi kondisi sosial Indonesia sendiri.

Yang terpenting adalah kandungan renungan dan penghayatan subjektifitas atas lagu-lagu, serta karakter pribadinya. Kita mungkin tidak hafal betul tahun berapa tiap lagu Bang Iwan diciptakan. Mungkin itu tak penting. Yang lebih penting adalah menghafal inti pesan yang terkandung dalam lirik-liriknya. Melalui lagu-lagunya, kesadaran akan kondisi sosial-politik Indonesia mudah terkonstruksi di kepala Orang Indonesia (OI). Bang Iwan mungkin bisa disebut guru sosiologi terbaik, paling tidak bagi Orang Indonesia.

Dari lirik lagu-lagunya, orang mudah menilai Bang Iwan sebagai sosok pemberontak’. Setiap nurani yang hidup akan mudah menemukan bahwa disini’ ada ketidakadilan, penindasan, dan, kerusakan moral. Hanya saja, ketidakjujuran memperumit semua itu, sehingga orang tak mampu mengatakannya.

Kita lalu ‘kompak’ terserang amnesia ketika berhadapan dengan nilai-nilai. Karena itu, yang menonjol di negeri ini adalah para durno, kancil, bandit, karet, bunglon, dan lain-lain.

Kelebihan lirik lagu Bang Iwan yang paling mencolok adalah kenyataan bahwa ia tidak lahir dari ruang hampa. Lirik-liriknya lahir dari hasil jepretan atas kondisi sosial politik Indonesia sendiri, dengan penggunaan kata-kata sederhana, telanjang, dan kadang-kadang jenaka.

Pandangan yang humanis ini tentu tak akan kita temukan pada diri orang yang tak punya kesadaran sosial dan spiritual yang mendalam. Dalam politik, orang mungkin akan mencemooh Bang Iwan andai dia menjadi seorang politisi. Pandangan-pandangan politik yang ada dalam lagu-lagunya tidak akan dijadikan mars oleh para demonstran jika dia ikut dalam ‘dunia pestapora para binatang’.

Bagi Bang Iwan, panggung politik adalah panggung para binatang yang merasa diri sebagai bintang (judul lagunya Asyik Gak Asyik di album Manusia ½ Dewa).

Walau lirik dalam lagu-lagunya begitu kental pesan-pesan moral (di balik kritik sosial pasti ada pesan moral) yang realistik dan eternal, namun kerendahan hati dan ketenangan tampak begitu inheren dalam dirinya akhir-akhir ini. Gaya bicara yang tak lantang lagi, menunjukkan bahwa Bang Iwan sadar bahwa dirinya bukanlah manusia setengah dewa.

Mendengarkan lagu-lagu cinta Bang Iwan, kita akan menangkap bahwa cinta yang dihayatinya adalah cinta orang-orang marjinal.

Seorang kawan pernah menyatakan ketidaksetujuannya pada Bang Iwan, karena dia pernah mengeritik Tuhan dalam salah satu syair lagunya, Tolong Dengar Tuhan!. Jika disikapi dengan nalar terbuka, lagu itu justru merupakan ekspresi penghayatan tentang alam semesta dan Tuhan yang dialami oleh orang yang bebas dan berani. Dalam dunia filsafat, penghayatan seperti itu justru banyak diungkapkan oleh para filsuf. ***

Kamis, 20 Desember 2007

ILUSI POLITIK

AMBIL duitnya, jangan coblos orangnya’. Slogan semacam itu populer sesaat menjelang pemilu. Selain itu ada istilah ‘serangan fajar’, kendati tak ada jaminan menambah partisipasi publik dalam melakukan pencoblosan.

Detik-detik menjelang Pilgub 2008, kita bisa menyikapi dua hal, yakni politik uang dan kebohongan publik. Sudah menjadi tradisi kampanye apa pun di Indonesia sarat dengan ‘mengumbar janji’ dan sebatas ilusi.

Ilusi, bagi Sigmund Freud, semacam luapan ketidaksadaran yang muncul dari alam bawah sadar manusia yang setiap saat mempunyai potensi menguasai kesadaran. Bagi Karl Marx, ketidaksadaran itu diidentifikasi sebagai kesadaran palsu.

Tak heran jika selain money politic, pola hegemonisasi dan irasionalisasi mewarnai proses kampanye. Pola-pola perilaku politik yang irasional sudah tentu akan berimplikasi pada upaya peraihan kekuasaan secara legal, salah satunya lewat kampanye. Kampanye tidak lain berisi pesan-pesan yang tidak ada korelasi dengan perjuangan politik, namun cukup ampuh untuk meraih dukungan politik dari partisan pemilu.

Fenomena semacam itu masih mewarnai pelaksanaan politik di Indonesia , termasuk di masyarakat perkotaan. Barangkali, menyikapi politik uang, partisipan pemilih sudah bisa bersikap rasional. Mengambil uangnya, tanpa mencoblos partai/orangnya. Namun, pada fenomena lain, masyarakat kita masih mencerminkan perilaku politik yang irasional atau kesadaran palsu.

Biar bagaimana pun elite politik, sebagai suatu kelas, merupakan sumber-sumber perilaku politik yang irasional. Mereka menyadari bahwa rakyat Indonesia masih dalam proses transisi ke modernitas dan demokrasi. Perilaku pemilih yang irasional merupakan potensi efektif untuk meraih dukungan mobilitatif.

Seharusnya, elite politik bukannya melegitimasi perilaku irasional dan meramunya menjadi obat bius’ hegemonik.

Materi kampanye yang sesungguhnya di dalam politik rasional adalah platform politik, memberi penjelasan-penjelasan dan rincian-rincian platform. Kampanye politik tidak sama dengan iklan sabun atau jual obat yang harus banyak memberikan ilusi. Tidak sama pula dengan jual kecap di mana semua kecap selalu nomor satu, tanpa menjelaskan mengapa dan bagaimana.

Janji-janji politik yang tidak mendasar dan realistis akan dipandang sebagai janji politik yang sesungguhnya, yang bila saatnya tiba akan menjadi indikator keberhasilan dari partisipan pemilih yang bersifat ilutif pula. Sebab, janji politik dalam politik rasional haruslah berwujud pada kontrak politik atau konsensus dengan masyarakat pemilih.

Aturan kampanye atau tata tertib barangkali telah sempurna. Namun, tidak semua aturan itu mampu mengontrol pesan-pesan kampanye yang berisi kesadaran palsu tersebut. Karenanya elite politik itu sendiri yang secara sadar mendorong transformasi sosial ke arah perilaku politik yang rasional dalam membangun demokrasi ***

Minggu, 16 Desember 2007

ISLAM = CENTRE TRACK

SABTU (15/12/2007), seperti biasa saya mencoba menghabiskan waktu sore dengan membuka website, ya sekadar membuka email yang mungkin ada pesan dari kolega lawas – Indra Zakaria – yang sekarang berada di Tarakan. Maklum sekarang dia sudah jadsi ‘bos’ media ‘satu-satunya’ di wilayah Utara Kaltim.

Beberapa website plus situs coba saya operasikan. Dan biasanya, setiap ‘ngenet’ saya tak lupa membuka ‘arena blog’, termasuk blogspot-nya Wakil Ketua DPRD Kaltim, H Andi Harun ST MSI di http://gagasandi.blogspot.com, yang juga sudah saya anggap sebagai sahabat, orang tua dan abang. Maklum, sosok Andi Harun bisa disebut salah satu dari sekian banyak wakil rakyat yang ‘cerdas’.

Di catatan blogspot itu, langsung terbaca tema tulisan ‘BER-ISLAM APA ADANYA (SEBUAH USULAN). ‘Luar biasa wakil ketua itu, cepat dan langsung direspon walau hanya diskusi kecil,” bathin saya. Langsung saja saya ‘klik’ komentara di bawah tulisan itu “Bagus bos,. Kapan hal itu bisa kita diskusikan dan kita jadikan buku” begitu tulis saya dalam komentar.

Tema itu memang bukan tema yang spektakuler, tapi yang patut diacungin jempol adalah respon untuk menggali wacana yang diimplemantasikan pada torehan tinta. Diskusi yang berangkat dari cerita ‘ngalor-ngidul’ sahabat-sahabat saya, Mukhlis Ramlan, Mulya, Bang Abrianto Amin, Pak Mul, dan Bang Andi Ade Leppu.

***** ^^^^^^ *****

Para ideolog Islam revivalis seringkali menggambarkan Islam sebagai agama "jalan tengah", agama wasath, agama moderat. Mereka memahami "jalan tengah" sebagai berada di tengah-tengah antara dua titik ekstrem.

Yang menarik, kedua titik ekstrem itu, menurut mereka, diwakili oleh agama Kristen dan Yahudi. Pandangan semacam ini dikemukakan antara lain orang-orang seperti Sayyid Qutb dan diikuti oleh banyak sarjana Islam lain. Posisi yang ada di tengah-tengah ini mereka pandang salah satu keunggulan agama Islam mengatasi agama-agama lain.

Saya ragu apakah penggambaran semacam ini tepat mengenai sasaran. Selama ini, ayat yang selalu dipakai sebagai sandaran adalah surah al-Baqarah (2:143). Dalam ayat itu, istilah "ummatan wasathan" sering dimaknai sebagai "bangsa yang ada di tengah-tengah". Dalam perkembangan terakhir, frasa itu malah langsung dikaitkan dengan istilah "Islam moderat".

Menurut saya, pemaknaan semacam ini tampak anakronis, dalam pengertian memaksakan pengertian modern kedalam ayat Qur'an yang belum tentu sesuai dengan makna asal dari ayat bersangkutan.

Hal itu sama saja dengan memaknai kata "hizb" yang ada dalam Qur'an sebagai "partai", sesuatu yang sama sekali tidak bisa diterima, karena istilah partai adalah istilah modern yang sama sekali asing dalam konteks pewahyuan Qur'an.

Jika Islam disebut sebagai jalan tengah, tentu pertanyaan yang patut diajukan adalah Islam yang mana yang memenuhi citra seperti itu. Kita tahu bahwa Islam mengejawantah dalam pelbagai bentuk. Meskipun umat Islam selalu dengan gigih mengatakan bahwa Islam adalah satu, tetap saja secara empiris Islam memiliki pelbagai bentuk. Jika memakai contoh yang karikatural, jelas sekali Islam sebagaimana dicontohkan oleh Osamah bin Ladin sangat sulit disebut sebagai agama jalan tengah.

Islam mempunyai banyak wajah. Yang lebih penting mempertanyakan kembali apakah Islam benar-benar berada di antara dua titik ekstrem? Jika agama Yahudi dianggap sebagai representasi dari agama yang secara keras menerapkan hukum, bukankah Islam pelan-pelan juga menjadi agama yang makin mirip seperti itu, yakni makin cenderung "halakhic", maksudnya makin legalistis?

Bukankah kajian fikih mendapatkan porsi yang terlalu besar dalam Islam? Bukankah diam-diam fikih menjadi standar kesalehan dalam beragama di kalangan umat Islam saat ini?

Jika dilihat secara lebih cermat, kajian atas hukum/fikih Islam jauh lebih rumit dan bertakik-takik dalam Islam ketimbang dalam Yahudi. Dengan kata lain, tekanan atas dimensi hukum dalam modus keberagamaan jauh lebih kuat di dalam Islam ketimbang dalam Yahudi. Jika demikian, mana yang lebih ekstrem, Yahudi atau Islam?

Beberapa, atau bahkan banyak sekali hukum Islam yang bersifat ekstrem dan kaku. Inilah yang menjadikan alasan kenapa sejumlah kelompok Islam bersikap kaku. Contoh yang sederhana adalah soal hukum jabat tangan dengan seorang perempuan. Meskipun saya menghormati pandangan sebagian kalangan Islam yang beranggapan bahwa menurut Islam laki-laki tidak diperbolehkan berjabat-tangan dengan perempuan non-muhrim (bukan kerabat dekat yang masih ada hubungan waris), tetapi saya tetap tidak bisa memahami sikap seperti itu.

Jikapun ada hadis yang benar-benar melarang hal itu, maka yang patut dipersoalkan bukanlah hadis itu, tetapi cara kita menafsirkannya. Sudah jelas hadis terikat dengan konteks zaman tertentu, dan tidak semua hal yang termuat dalam hadis bisa dengan serta merta dilaksanakan sekarang.

Masalah haramnya jabat tangan dengan perempuan ini memang kelihatan sepele, tetapi menjadi masalah yang serius karena sekarang tampaknya makin banyak umat Islam yang mengikuti pandangan tersebut. Tak kurang Ketua Umum MPR kita adalah pengikut pandangan ini. Bahkan kesalehan seorang Muslim juga cenderung diukur dengan standar yang seperti ini.

Jika contoh keras menerapkan hukum menunjukkan komoderatan Islam, contoh jabat tangan justru menunjukkan keekstriman Islam. Jadi, betulkah Islam agama jalan tengah?

Indonesia Tanpa Parpol

PERJALANAN bangsa dalam membangun sebuah cita-cita kehidupan berdemokrasi terus mengalir, semua elemen bangsa terus berteriak dengan lantang tentang demokrasi Pelaksanaan atas demokrasi itu sendiri sampai hari ini juga masih terjadi kekurangan, bahkan sama sekali belum secara kaffah menjalankan, bahkan adanya ‘penyakit khas’ yang menjangkit di Indonesia ini, pelaksanaan demokrasi malahan meminta ‘tumbal’.
Namun terbesit dalam pikiran saya, apakah demokrasi sudah terjawab dan terasa? Pertanyaan ini semestinya menjadi refleksi bagi semua eleman bangsa ini. Terlebih bagi kalangan eksekutif dan elit parpol, mengingat parpol adalah instrumen utama dalam proses konsolidasi demokrasi yang dilindungi konstitusi.
Namun sungguh mengejutkan semua kalangan, ketika satu sisi parpol diposisikan sebagai komunikator dalam konsolidasi demokrasi modern, alhasil, kita malah mendapatkan irus-virus kronis yang menggejala secara merata di tubuh parpol yang ada di Indonesia ini.
Lihat saja dengan kondisi parpol pada hari ini yang mulai ‘kehilangan basisnya’, dan hanya orang-orang tertentu yang masih memiliki akses terhadap ‘kue’ politik saja yang masih bertahan dalam posisinya.
Persoalan ini, menurut pandangan saya, disebabkan oleh pola kaderisasi parpol yang hanya mengandalkan ‘privilege’ kultural saja dan tidak sungguh-sungguh dalam menerapkan platform kepartaiannya. Sehingga banyak kita dapati kontradiksi antara platform dengan program kegiatan parpol yang sangat mencolok.
Ditambah lagi tingkat ‘survival’ parpol yang ditopang dari pendanaan yang subhat. Sehingga gerakan turun kebasis tidak ada dalam nalar maupun gerakan parpol, yang pada akhirnya komunikasi politik terhadap konstituen menjadi macet.
Meski dibantah oleh para pemimpinnya, memang begitulah realitas parpol di negeri ini. Maka wajar jika rakyat terus menerus merasa dikhianati oleh ‘Parpol’.
Jika demikian realitasnya, kata demokrasi di negeri ini hanya sebuah slogan dan sekedar ‘jampi-jampi’ bagi para politisi dan penguasa untuk meloloskan niat mereka, rakyat benar-benar berada di ujung tanduk, yang tak mampu berdiri tegak (apalagi berjalan).
Secara konkret, apakah peran parpol sudah saatnya dihapus dari poses demokrasi? Hal ini berdasar pada realitas politik yang buruk, yang sering dan hampir setiap saat kita hadapi bersama.
(Mungkin) menghapus peran parpol dalam proses demokrasi, minimal rakyat diuntungkan dari; perilaku korupsi yang bermediasi dengan parpol, mengurangi praktik money politic di Pemilu dan Pilkada. Sedangkan untuk melindungi hak-hak dan mewujudkan kesejahteraan, tidak bisa secara penuh dipasrahkan pada wakil rakyat, tapi, inisiasi, partisipasi, sebagai bentuk kontrol politik atas mekanisme, prosedur dan proses demokrasi yang ada adalah peran kita sebagai rakyat.
Bayangan kedepan, ketika bicara soal Indonesia dan Kaltim hari ini, kita akan sepakat, bahwa (mungkin) tanpa parpol, publik akan lebih nyaman, aman, tenteram dan bangunan kepercayaan atas birokrasi di negeri ini menjadi tidak sekadar dibalik gedung.
Akan tetapi saling berhadapan antara rakyat dengan pejabatnya, angka korupsi pun semakin kecil. Dan upaya menciptakan masyarakat yang adil, makmur tidak hanya slogan dalam Pancasila, akan tetapi menjadi realitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga. ***

Senin, 03 Desember 2007

‘Rental’ Parpol Dalam Pilkada


PILKADA langsung diharapkan akan mewujudkan sistem desentralisasi dan otonomi daerah yang hakiki dan ‘good governance’ skala lokal, ternyata punya banyak efek samping. Politik uang dalam pilkada sudah dianggap akibat logis, tidak ada yang bisa melarang dan mencegah apapun bentuknya.
Semangat persaingan partai makin menjadi-jadi, apalagi dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengizinkan partai-partai kecil yang tidak punya kursi di parlemen bisa berkoalisi untuk mencalonkan partai, selama jumlah gabungan suara mereka memenuhi syarat. Partai besar dan gabungan partai mempunyai ‘posisi tawar’ tinggi bagi seorang calon bupati atau walikota.
Apakah mengusulkan calon dari kader partai atau bukan, itu hak elite partai tingkat lokal. Sehingga muncul modus baru dalam pilkada yang disebut ‘rental partai’. Sebuah partai, tidak merasa perlu mencalonkan kader sendiri, tetapi siapapun yang bisa memberikan uang dan imbal materi, maka partai itu bisa dirental atau disewa.
Para elite partai-partai kecil dalam pilkada bisa berlomba-lomba memasang tarif sewa partai, bagi calon yang berminat. Usai pilkada, jika kepala daerah sudah berhasil terpilih, maka akan tiba giliran munculnya ‘ Shadow State ’ dan ‘Informal economy’.
Apakah semua ini sebagai efek samping atau paradakos pilkada yang tumbuh dalam rahim sistem demokrasi ? Kita tidak tahu, tetapi di negara nenek moyang demokrasi saja seperti di Amerika Serikat, politik uang sangat subur pada pilkada presiden. Jika presiden sudah benar-benar terpilih, maka para penyandang dana kampanye bisa memetik cita-cita dan keinginan mereka.
Inilah efek samping Pilkada, bentuk ‘pesta demokrasi’ dalam wajah baru. Jika zaman otoriter Soekarno dan Soeharto, seorang kepala daerah akan terpilih karena ‘tangannya sudah digarisi’. Maka di era reformasi, kepala daerah terpilih, tidak hanya ‘garis tangan’. Tapi juga tergantung pada kemampuan untuk ‘me-rental’ partai-partai, untuk memenangkannya. Pastinya dengan uang.
Dan ini, bukan hal yang musykil terjadi bagi calon yang sudah terlanjur ‘kasmaran’ dengan kekuasaan di depan pelupuk matanya. Memang sebuah paradoks. ***

DUNIA TANPA SUBJEK

SEBUAH kecenderungan di dalam struktur peradaban Modern. Yang tidak lagi memahami apa itu sebuah realitas, yang melahirkan perwujudan baru tentang dimensi realitas. Kematian nalar atas sebuah realitas menjadi tema sentral sebuah peradaban. Kecerdasan yang rasional belum cukup sebagai gambaran realitas manusia. Kesejatian tentang sebuah kondisi, yang di dalamnya kepalsuan berbaur dengan keaslian; masa lalu yang bercampur dengan masa kini; rekayasa yang bersenyawa dengan fakta. Sebuah kematian realitas yang mengawali hidupnya sebuah naluri yang asing. Sirna dan mati, nilai dan makna adalah sebuah tanda, yang terkait dengan status ontologis bahasa. Itulah dunia Posmodernisme. Dunia yang dipenuhi cibiran atas kesejatian realitas, dunia dengan ke-tumpangtindih-annya yang menciptakan realitasnya sendiri. Posmodernisme yang merupakan sebuah budaya, yang di dalamnya hidup berbagai ilusi, mimpi, simulasi, kesemuan, kedangkalan, yang kulit arinya dipermak dan dikemas menjadi sosok mahluk komoditi, yang tulangnya dikontruksikan secara sosial, dan dagingnya di labelkan melalui komunikasi dagang, hingga mewujud sebagai sosok realitas. Dunia tanpa subjek adalah dimana budaya menjadi parodi, sosial menjadi parodi, politik menjadi parodi, perselingkuhan menjadi parodi, nasehat dan dakwah menjadi parodi, perjuangan menjadi parodi, keniscayaan menjadi parodi, percintaan hingga kemiskinan menjadi parodi. Tak ada nilai yang tak terparodikan, tak ada makna yang tak terparodikan...dan tak ada seorang aktorpun yang luput menjadi komedian...yang sialnya, ikut terparodikan. Dunia tanpa subjek adalah dunia yang penuh ledekan, bahan tertawaan (cengengesan), kekonyolan, plintat-plintut, Sebuah kampung hegemoni pada semesta maya yang teridentifikasi sebagai dunia tanpa koma. Ada rasionalitas yang menuduh bahwa yang asing adalah ruang kosong. Setelah apa yang dilakoni nalar berhenti, disinilah peran intuisi bekerja, menembus dimensi spiritual menuju yang asing. Kemampuan mengenal yang asing dikenali dg mengkondisikan nalar pada level tertentu dan mempertajam ujung intuisi. Tapi inilah satu hal yang tak dapat dilakukan oleh nalar puitis, karena hanya dimensi ruang kosonglah dimensi yang asing, dimensi yang dijadikan sebagai tertuduh, suatu dimensi kesunyian yang mampu mengelaborasi kesejatian realitas.Subjek harus ditentukan, objek harus dipastikan. Ketidakpastiannya merupakan ketidakseimbangan sebuah kosmos yang bisa berakibat fatal atas rotasi alam. Ketertiban sebuah kosmos alam harus merefleksi pada kesempurnaan rotasi akal. Hingga kematian dan kemusnahan tanda menjadi suatu nihilitas atas diri kesempurnaan manusia. Karena sirnanya nilai, matinya makna adalah hidupnya nalar puitis, nalar yang bekerja di tanah yang tak berdasar antara realitas. ***